”Dan kami sangat mengapresiasi bahwa dari film Ghost in the Cell ini, ini menunjukkan suatu peningkatan tingkatan peradaban di dalam pembuatan suatu film yang penuh dengan kritik sosial, yang kader-kader PDI Perjuangan wajib menonton dan semuanya untuk melihat pesan-pesan yang disampaikan meskipun nampak ada kengerian tetapi itulah kalau negara tidak dikelola dengan baik, apa yang disampaikan di dalam film dengan berbagai kritik sosial, politik dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bisa terjadi,” ujarnya.
Bagi Hasto, esensi dari Bulan Bung Karno sebenarnya membumikan kembali cita-cita kemerdekaan yang digali sejak masa muda proklamator tersebut, yakni mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat. Melalui karya seni seperti film ini, masyarakat diingatkan untuk setia pada moralitas dan etika bernegara.
Hasto juga mengingatkan bahwa film ini menggugah kesadaran agar negara dikelola dengan baik.
“Itulah kalau negara tidak tidak dikelola dengan baik, apa yang disampaikan di dalam film dengan berbagai kritik sosial, politik, dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bisa terjadi. Maka ini menggugah kita agar Bulan Bung Karno menyadarkan kita semuanya untuk setia pada nilai-nilai moral, setia pada idealisme, setia pada etika di dalam kehidupan bersama,” ujar Hasto.
Menanggapi pemutaran suara AI Bung Karno sebelum film dimulai, Hasto menjelaskan bahwa hal itu sejalan dengan teori geopolitik Soekarno tentang penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan inovasi.
“Kami juga mengakrabi dengan berbagai pengembangan teknologi itu, tetapi kami bawa ke dalam hal-hal yang sesuai dengan ideologi, yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan anak-anak muda. Jadi partai masuk dengan menggunakan teknologi untuk menyampaikan pesan-pesan politik, pesan yang membangkitkan idealisme, pesan yang membangkitkan rasa cinta tanah air, tetapi juga pesan yang membangkitkan suatu perjuangan,” beber Hasto.
