JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET | Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Tri Waluyo, menegaskan bahwa persoalan Non-Revenue Water (NRW) dan pipanisasi berdampak langsung terhadap pelayanan air bersih serta pendapatan asli daerah (PAD).
Ia pun menyoroti, kenapa pihak PAM Jaya selalu mengeluh dan berdalih masalah Pipanisasi dan NRW (Non-Revenue Water) sebagai sebuah kendala.
“Alasan PAM itu kan selalu NRW dan pipanisasi,” ujar Tri, pada, Rabu (17/6/2026).
Tri meminta PAM Jaya tidak terus menjadikan pipanisasi dan NRW sebagai alasan belum optimalnya layanan air bersih. Persoalan tersebut harus selesai melalui langkah terukur.
“Pipanisasi ini kita minta agar dipercepat. Seandainya ada kendala, mari kita cari resolusinya bersama-sama,” tandas Tri.
Lambatnya pipanisasi, sambung dia, berpotensi menghambat perluasan cakupan layanan air bersih bagi warga Jakarta. Kondisi tersebut juga mempengaruhi kontribusi PAM Jaya terhadap PAD.
“Jangan setiap tahun yang dikatakan pekerjaan pipanisasi belum selesai, NRW masih bocor, dan kondisi alam juga mempengaruhi,” ucap Tri.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menjelaskan, NRW merupakan air yang belum tertagih.
Ia menyebut, jaringan pipa PAM Jaya memiliki panjang sekitar 13.000 kilometer. Sehingga, butuh pendekatan teknis dalam menghitung air tak berekening.
“Secara definisi, Non-Revenue Water adalah air yang belum tertagih,” tutur Arief.
Menurut dia, PAM Jaya sedang mengaji formula perhitungan NRW yang lebih sesuai dengan kondisi jaringan air perpipaan Jakarta. Kajian itu melibatkan pihak independen agar hasilnya objektif.











