MBG dapat menjadi jembatan besar antara gizi dan ekonomi desa. Anak-anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui membutuhkan makanan bergizi. Pada saat yang sama, petani, peternak, nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku pangan lokal membutuhkan pasar yang pasti. Jika MBG membeli telur, ikan, sayur, buah, beras, jagung, ayam, dan pangan lokal dari sekitar wilayah layanan, maka uang negara berputar di desa. MBG tidak berhenti sebagai program makan, tetapi berubah menjadi mesin ekonomi lokal.
Kopdes Merah Putih dapat menjadi simpulnya. Koperasi desa bisa menghubungkan petani dengan dapur MBG, nelayan dengan pasar sekolah, peternak dengan rantai pasok gizi, dan UMKM dengan distribusi pangan. Kopdes juga bisa memotong tengkulak, menyediakan pupuk, logistik, pembiayaan mikro, penyimpanan dingin, dan pengolahan sederhana. Inilah bentuk hilirisasi pangan berbasis desa. Jika desa kuat, kota ikut aman. Jika petani sejahtera, inflasi pangan lebih terkendali. Jika gizi anak baik, masa depan bangsa lebih sehat.
Pelajaran untuk gubernur, bupati, dan walikota sangat jelas. Jangan hanya mengejar investasi, PAD, dan seremoni proyek. Pimpin daerah dengan neraca ekologis. Susun peta jalan hilirisasi daerah. Lindungi sawah, gambut, mangrove, hutan, sungai, dan pesisir. Pastikan izin tidak mengorbankan ruang hidup rakyat. Hubungkan MBG dengan produksi lokal. Jadikan Kopdes sebagai mesin distribusi yang jujur. Gunakan SDGs sebagai alat ukur, bukan hiasan laporan. Kepala daerah harus berani bertanya: setiap ton batu bara, setiap hektare sawit, setiap kubik kayu, setiap kilogram ikan, dan setiap liter air memberi manfaat kepada siapa?
Pelajaran untuk Generasi Z dan Generasi Alpha juga tidak kalah penting. Mereka tidak boleh mewarisi alam dalam keadaan rusak dan data dalam keadaan gelap. Mereka harus menjadi generasi yang paham iklim, teknologi, koperasi, pangan lokal, energi bersih, dan etika publik. Mereka perlu masuk ke desa, membaca peta, memahami rantai pasok, menguasai digitalisasi, dan menjaga integritas. Masa depan tidak cukup kita bangun dengan kecerdasan buatan. Masa depan butuh kecerdasan ekologis.
Dari secangkir Koptagul liberika Kalbar, kita belajar bahwa sumber daya alam bukan benda mati. Ia menyimpan sejarah kolonial, janji konstitusi, luka pembangunan, dan harapan generasi. Indonesia tidak boleh lagi kaya sumber daya tetapi miskin manfaat. Kalimantan tidak boleh hanya menjadi halaman belakang industri nasional. Ia harus menjadi pusat pembelajaran kedaulatan ekologis.
Maka, pelajaran terbesar diskusi ini sederhana: sumber daya alam harus kembali menjadi amanah, bukan sekadar komoditas. Negara harus hadir, pasar harus tertib, daerah harus berdaya, desa harus hidup, dan generasi muda harus menjaga. Jika semua itu berjalan, lumbung Indonesia tidak lagi melahirkan ironi. Ia akan menjadi lumbung energi, lumbung pangan, lumbung keadilan, dan lumbung masa depan. Di titik itulah Satupena perlu terus menulis, mengingatkan, dan merawat akal sehat publik agar kebijakan besar tetap dekat dengan rakyat di setiap kampung Indonesia.
OLEH: Gusti Hardiansyah
(GuruBesar Universitas Tanjungpura, KetuaICMIOrwil Kalbar)
