Faktor lainnya adalah sentimen dari kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang hawkish.
“Arah kebijakan The Fed ke depan menuju pada pengetatan untuk mengendalikan inflasi dengan kemungkinan kenaikan bunga satu kali di tahun ini yang berakibat index dollar akan terus menguat,” ucap Rully Nova.
Pada sisi lain kebijakan stimulus pemerintah diperkirakan akan mendukung daya beli masyarakat dan berpotensi menjaga pertumbuhan ekonomi. Namun, indeks dolar AS yang terus menguat berakibat ruang penguatan rupiah sangat terbatas.
Hal yang dimaksud seperti penerbitan paket stimulus ekonomi untuk semester II-2026 sebesar Rp26,34 triliun. Dari jumlah ini stimulus insentif transportasi sekitar Rp2,04 triliun, anggaran magang dan vokasi sekitar Rp6,26 triliun, dan bantuan pangan sebesar Rp18,04 triliun. (adm)











