Gelombang Panas 2026 Tak Terjadi 5 Tahun Lalu, Studi WWA: 200 Kali Lebih Besar Ketimbang 20 Tahun Lalu

Dokter Ingatkan Bahaya Mandi Terlalu Sering di Cuaca Panas/(pixabay)

FAKTANASIONAL.NET – Studi World Weather Attribution (WWA) yang dirilis pada Jumat (26/6/2026) menemukan gelombang panas tahun 2026 tidak terjadi pada lima dekade terakhir.

Bahkan, ini diprediksi berlangsung 200 kali lebih besar dibandingkan 20 tahun lalu.

Jutaan orang di Prancis, Italia, Spanyol, Inggris Raya, dan berbagai wilayah lain di Eropa mengalami suhu dan kelembapan yang sangat ekstrem pada pekan ini akibat fenomena heat dome (kubah panas).

Suhu siang hari di banyak tempat melampaui 40 derajat Celsius (104 derajat Fahrenheit).

Sementara itu suhu malam yang tetap tinggi membuat tubuh sulit mendinginkan diri dan pulih dari paparan panas.

Para ilmuwan memperkirakan jika gelombang panas dengan karakteristik serupa terjadi pada kondisi iklim Juni 1976, maka suhu siangnya akan sekitar 3,5 derajat Celsius (6,3 Fahrenheit) lebih rendah.

Apabila terjadi pada iklim tahun 2003, maka suhu siangnya akan sekitar 2 derajat Celsius (3,6 Fahrenheit) lebih rendah.

Sementara itu, suhu malam hari diperkirakan akan sekitar 2,4 derajat Celsius (4,3 Fahrenheit) lebih rendah pada Juni 1976.

Hal lainnya sekitar 1,3 derajat Celsius (2,3 Fahrenheit) lebih rendah pada 2003.

Tahun 1976 dan 2003 dipilih sebagai pembanding karena di kedua tahun itu pernah terjadi gelombang panas ekstrem di Eropa.

“Peningkatan suhu kali ini sangat drastis, sehingga kami memperkirakan peristiwa seperti ini tidak mungkin terjadi dalam kondisi iklim tahun 1976,” kata penulis utama studi tersebut sekaligus Ilmuwan iklim dari Centre for Environmental Policy, Imperial College London, Theodore Keeping.

Bahkan, jika dibandingkan dengan kondisi iklim 23 tahun lalu, pada 2003, maka kejadian seperti ini masih akan sangat, sangat jarang terjadi.”

Perubahan iklim menjadi penyebab utama gelombang panas World Weather Attribution (WWA).

Kolaborasi ilmuwan yang berbasis di Eropa dan meneliti penyebab berbagai cuaca ekstrem di dunia.

Sejak tahun 2015 telah menganalisis sejauh mana peristiwa-peristiwa tersebut dapat dikaitkan dengan perubahan iklim.

Hal ini akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.

Penelitian ini menggunakan data suhu yang telah diamati serta prakiraan cuaca untuk menganalisis gelombang panas yang dimulai pada 18 Juni 2026.

Studi tersebut juga menemukan bahwa 45% dari 850 kota yang dianalisis di 30 negara Eropa.

Kondisi ini telah memecahkan atau diperkirakan akan mencapai rekor tingkat stres panas (heat stress), yaitu ukuran yang memperhitungkan kombinasi suhu dan kelembapan.

“Indikator ini secara langsung berkaitan dengan tekanan panas yang dialami tubuh manusia dan kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri,” kata Theodore Keeping.

Ini merupakan ukuran yang sangat baik untuk memperkirakan dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh gelombang panas ini,” ujar Theodore Keeping.

Kombinasi panas dan kelembapan sangat berbahaya bagi manusia.

Para peneliti WWA mengemukakan peristiwa ini merupakan gelombang panas paling parah yang pernah terjadi di kawasan Eropa.

Hal lainnya sebagai peristiwa panas lembap paling ekstrem yang pernah terjadi di wilayah itu.

Eropa belum siap menghadapi suhu ekstrem seperti ini.

Kawasannya, merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia.

Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa, sejak 1980-an suhu di Eropa naik dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata suhu global.

Studi terpisah tahun lalu mengemukakan para peneliti WWA memperkirakan sekitar 1.500 kematian selama gelombang panas musim panas lalu di Eropa akibat perubahan iklim.

Pekan lalu badan-badan meteorologi di berbagai negara Eropa mengeluarkan peringatan merah terkait risiko panas ekstrem.

Akibatnya, berbagai kegiatan olahraga, sekolah, transportasi umum, dan tempat wisata dibatasi.

Banyak negara di Eropa juga belum memiliki penggunaan pendingin ruangan (AC) secara luas dan infrastruktur lain yang memadai untuk menghadapi iklim yang semakin panas.

Prancis sebagai salah satu negara yang paling terdampak gelombang panas ini mengalami hari terpanas sepanjang sejarah pada pekan sekarang.

Negara ini juga melaporkan 40 kematian akibat tenggelam, ketika banyak orang berusaha mencari tempat untuk mendinginkan diri.

Para ilmuwan WWA menegaskan bahwa siklus pemanasan El NiƱo yang sedang berlangsung tidak berperan dalam menyebabkan gelombang panas kali ini.

Eropa juga mengalami suhu yang memecahkan rekor pada Mei 2026.

Padahal, cuaca lebih panas baru terjadi pada Juli dan Agustus.

Ilmuwan iklim dari University of Pennsylvania, Michael Mann yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan studi tersebut meremehkan seberapa besar peran perubahan iklim dalam peristiwa ini.

Dia juga telah meneliti bagaimana perubahan iklim meningkatkan stres panas di Amerika Utara

Theodore Keeping mengutarakan gelombang panas di Eropa menunjukkan penyesuaikan infrastruktur dan perilaku masyarakat dinilai terhadap suhu ekstrem.

“Kita harus bersiap menghadapi kejadian-kejadian seperti ini. Dalam waktu dekat, frekuensinya hanya akan semakin sering,” ucapnya

“Kita juga harus mengatasi sumber utama perubahan iklim, yaitu emisi karbon yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil.” (adm)