Menyelami Penderitaan

Menyelami Penderitaan

DALAM Dunia yang sibuk menghitung kemenangan, hanya sedikit manusia yang berani menghitung luka.

Orang-orang memamerkan mahkota, tetapi menyembunyikan duri yang pernah menembus kepalanya.

Mereka memuji senyuman, tetapi menutupi air mata seolah-olah tangisan adalah aib yang harus dikubur bersama malam.

Padahal, sejarah manusia tidak pernah ditulis oleh tawa semata. Ia diukir oleh penderitaan yang menolak dilupakan.

Penderitaan adalah bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Ia dapat dipahami oleh seorang pengemis maupun seorang raja.

Ia tidak memilih rumah yang megah atau gubuk yang reyot. Ia mengetuk setiap pintu, dan setiap kali ia masuk, ia meninggalkan pertanyaan yang sama:

“Apakah engkau masih mengenal dirimu sendiri ketika semua yang engkau banggakan telah direnggut darimu?”

Banyak orang mengira penderitaan datang untuk menghukum. Padahal sering kali ia datang untuk memperkenalkan manusia kepada dirinya sendiri.

Sebab selama hidup dipenuhi kemudahan, manusia mudah mengira bahwa dirinya kuat. Ia mengira kekayaannya adalah benteng, jabatannya adalah kehormatan, dan pujian manusia adalah ukuran kemuliaan.

Namun ketika badai datang, semua yang tampak kokoh mulai memperlihatkan retaknya.

Saat itulah seseorang menyadari bahwa yang selama ini ia sebut kekuatan hanyalah pinjaman.

Ada sebuah ketakutan yang hidup diam-diam di dalam dada manusia.

Ketakutan kehilangan.

Ketakutan ditolak.

Ketakutan miskin.

Ketakutan dipenjara.

Ketakutan dihina.

Ketakutan mati.

Ketakutan inilah yang kemudian dipelihara oleh kekuasaan.

Betapa banyak manusia rela menjual nuraninya hanya agar tetap aman.

Mereka mengubah keyakinan menjadi komoditas.

Mereka menggadaikan kejujuran demi kursi.

Mereka menukar harga diri dengan kenyamanan.

Lalu mereka menyebut semua itu sebagai kebijaksanaan.

Padahal sesungguhnya itu hanyalah rasa takut yang mengenakan pakaian sopan.

Orang yang takut selalu mudah diarahkan.

Ia tidak membutuhkan rantai.

Cukup ancaman.

Cukup janji.

Cukup sedikit kenyamanan.

Maka ia akan berjalan menuju penjara yang dibangunnya sendiri.

Namun ada manusia yang berbeda.

Ia telah terlalu lama berjalan bersama penderitaan.

Ia telah kehilangan banyak hal yang dahulu dianggap penting.

Ia pernah menyaksikan harapannya runtuh.

Ia pernah ditinggalkan ketika paling membutuhkan teman.

Ia pernah difitnah saat berkata jujur.

Ia pernah gagal ketika telah mengerahkan seluruh kemampuannya.

Ia pernah menangis tanpa ada bahu tempat bersandar.

Mula-mula ia mengira dirinya sedang dihancurkan.

Tetapi waktu membisikkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah mana pun.

Bahwa tidak semua yang patah sedang binasa.

Ada yang patah agar cahaya dapat masuk.

Ada yang hancur agar kesombongan ikut terkubur.

Ada yang kehilangan agar tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang fana.

Luka yang dahulu ia benci perlahan berubah menjadi guru yang paling sabar.

Guru itu tidak banyak berbicara.

Ia mengajar melalui sepi.

Ia mengajar melalui penantian.

Ia mengajar melalui air mata.

Dan pelajaran itu tidak pernah dapat dibeli.

Suatu hari, tanpa disadari, ia menemukan sesuatu yang aneh dalam dirinya.

Ia masih merasakan sakit.

Namun ia tidak lagi takut.

Ketakutan yang dahulu menguasai pikirannya mulai mati satu demi satu.

Apa lagi yang harus ditakutkan oleh seseorang yang telah kehilangan hampir segala sesuatu?

Apa ancaman terbesar bagi orang yang sudah berkali-kali jatuh lalu bangkit?

Apa hinaan bagi hati yang telah ditempa oleh kesunyian?

Penderitaan ternyata tidak sekadar melukai.

Ia juga membunuh sesuatu.

Ia membunuh rasa takut.

Dan ketika rasa takut mati, lahirlah kebebasan yang tidak dapat dipenjarakan.

Sejak saat itu dunia tidak lagi mampu membelinya.

Sebab dunia selalu membeli manusia melalui apa yang mereka cintai.

Ada yang dibeli dengan uang.

Ada yang dibeli dengan jabatan.

Ada yang dibeli dengan pujian.

Ada yang dibeli dengan ketenaran.

Ada yang dibeli dengan ancaman.

Namun bagaimana mungkin membeli seseorang yang telah belajar bahwa semua itu hanyalah tamu?

Tamu datang.

Tamu pergi.

Rumah tetap berdiri.

Begitulah hati orang yang telah ditempa penderitaan.

Ia tidak lagi menjadikan dunia sebagai pemilik dirinya.

Dunia hanyalah persinggahan.

Karena itu ia tidak sibuk memperebutkan kursi yang akan ditinggalkan.

Ia lebih sibuk memperbaiki jiwa yang akan dibawanya pulang.

Banyak penguasa mengira kekuatan mereka lahir dari banyaknya orang yang tunduk.

Padahal sebagian besar ketundukan hanyalah buah dari ketakutan.

Begitu rasa takut hilang, singgasana mulai terlihat biasa.

Mahkota hanyalah logam.

Istana hanyalah batu.

Jabatan hanyalah selembar keputusan yang suatu hari akan usang.

Yang tetap hidup hanyalah akhlak.

Karena itu orang yang telah menyelami penderitaan tidak mudah terpukau oleh kemegahan.

Ia telah melihat bahwa kekuasaan dapat berpindah tangan dalam satu malam.

Ia telah melihat orang kaya menjadi miskin.

Ia telah melihat orang yang dielu-elukan berubah menjadi bahan cemoohan.

Ia telah melihat waktu menertawakan kesombongan manusia.

Lalu mengapa ia harus menyembah sesuatu yang bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri?

Namun jangan salah mengerti.

Orang seperti ini bukan pemberontak terhadap semua hal.

Ia masih mengenal hormat.

Ia masih memahami adab.

Ia masih tahu kapan harus menundukkan kepala.

Tetapi kepalanya tidak tunduk kepada ketakutan.

Ia tunduk kepada kebenaran.

Ia menghormati kebijaksanaan, bukan kesewenang-wenangan.

Ia memuliakan akhlak, bukan kekuasaan.

Ia mencintai kejujuran, bukan kemewahan.

Karena itu, hormatnya memiliki nilai.

Ia tidak murah.

Ia tidak dijual.

Ia tidak dipaksa.

Ia lahir dari hati yang mampu membedakan antara kemuliaan dan kemegahan.

Betapa banyak manusia tampak tinggi karena berdiri di atas panggung, padahal jiwanya kerdil.

Dan betapa banyak manusia tampak sederhana, tetapi langit mengenal namanya lebih baik daripada bumi.

Ukuran kemuliaan ternyata bukan seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan kepada nilai apa ia bersedia berlutut.

Mungkin itulah sebabnya penderitaan menjadi jalan yang berat.

Bukan karena Tuhan mencintai air mata.

Melainkan karena hanya sedikit manusia yang mau dibebaskan dari ketakutannya.

Kebebasan batin selalu menuntut harga.

Harga itu adalah kenyamanan.

Harga itu adalah kesombongan.

Harga itu adalah ilusi bahwa manusia dapat menguasai segalanya.

Dan ketika semua ilusi itu runtuh, lahirlah seseorang yang tidak lagi hidup demi tepuk tangan manusia, tetapi demi ketenangan nuraninya.

Ia berjalan perlahan.

Tidak tergesa-gesa mengejar dunia.

Tidak pula berhenti karena ancaman.

Sebab ia telah mengetahui sebuah rahasia yang hanya diajarkan oleh penderitaan:

bahwa orang yang paling merdeka bukanlah orang yang memiliki segalanya, melainkan orang yang tidak lagi diperbudak oleh rasa takut kehilangan apa pun.

Setelah rasa takut perlahan gugur dari dalam dada, manusia memasuki sebuah negeri yang asing. Negeri itu tidak memiliki tembok, tetapi sangat sulit dimasuki.

Tidak ada gerbang yang dijaga prajurit, namun hanya sedikit jiwa yang berhasil tiba di sana. Negeri itu bernama kemerdekaan batin.

Di sana, ancaman kehilangan tidak lagi menjadi cambuk. Pujian tidak membuat seseorang mabuk, dan celaan tidak membuatnya kehilangan arah.

Ia telah belajar bahwa penilaian manusia berubah secepat bayangan yang berpindah mengikuti matahari.

Hari ini seseorang dipuja karena kekayaannya, esok ia dicela karena kemiskinannya.

Hari ini seseorang disanjung karena jabatannya, lusa namanya bahkan tidak lagi disebut. Betapa rapuhnya kemuliaan yang dibangun di atas penilaian manusia.

Maka orang yang telah ditempa oleh penderitaan tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada sorak-sorai.

Ia lebih memilih menjadi benar daripada menjadi terkenal. Ia lebih rela kehilangan kesempatan daripada kehilangan hati nuraninya.

Kekuasaan sering kali tidak datang dengan wajah yang menakutkan. Ia datang dengan senyum yang ramah, dengan janji yang terdengar masuk akal, bahkan dengan bahasa yang mengatasnamakan kepentingan bersama.

Ia berkata, “Ikutlah bersama kami. Tidak perlu mengubah dunia. Cukup diam, dan engkau akan hidup nyaman.”

Banyak jiwa menerima tawaran itu. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka lelah.

Mereka ingin hidup tenang, ingin keluarga mereka aman, ingin hari-harinya berlalu tanpa guncangan.

Perlahan, diam menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan berubah menjadi pembenaran.

Di situlah hati mulai kehilangan kepekaannya.

Kezaliman yang pertama kali membuat mereka gelisah, lama-kelamaan terasa biasa.

Kebohongan yang dahulu mereka benci, akhirnya terdengar wajar.

Dan suara hati yang dahulu lantang, kini hanya berbisik lirih, tenggelam oleh riuh kepentingan.

Begitulah nurani mati, bukan karena satu pukulan besar, tetapi karena ribuan kompromi kecil.

Namun ada jiwa yang menolak jalan itu.

Bukan karena ia merasa paling suci, bukan pula karena ia haus pujian sebagai pejuang.

Ia hanya tidak sanggup mengkhianati kebenaran yang telah tumbuh di dalam dirinya.

Penderitaan telah mengajarinya bahwa kenyamanan yang dibayar dengan kehormatan adalah penjara yang paling indah sekaligus paling menyedihkan.

Sebab seseorang dapat memiliki rumah megah, tetapi hidup sebagai tawanan ketakutannya sendiri.

Ia dapat mengenakan pakaian yang mahal, tetapi jiwanya telanjang di hadapan kebenaran.

Ia dapat duduk di kursi yang tinggi, tetapi setiap malam tidur bersama kecemasan yang tidak pernah selesai.

Apa arti kemenangan jika hati terus-menerus kalah?

Apa arti kekuasaan jika seseorang tidak lagi mampu menatap dirinya sendiri di depan cermin?

Ada saat ketika langit seolah diam terhadap orang yang jujur.

Mereka difitnah.

Mereka disingkirkan.

Mereka dianggap pengganggu.

Orang-orang bertanya, “Mengapa orang baik justru menderita?”

Barangkali karena dunia terlalu sering mengukur kemenangan dengan hasil yang tampak. Padahal Tuhan menumbuhkan banyak kemenangan di tempat yang tidak terlihat oleh mata.

Benih tidak pernah tumbuh di atas batu. Ia tumbuh di dalam tanah yang gelap.

Begitu pula jiwa manusia.

Kebijaksanaan jarang lahir dari pesta. Ia lebih sering lahir dari kesendirian.

Keberanian tidak lahir dari tepuk tangan. Ia tumbuh ketika seseorang tetap memilih jalan yang benar meskipun tidak ada seorang pun yang berdiri di sisinya.

Maka jangan terburu-buru menyebut penderitaan sebagai kegagalan. Bisa jadi ia adalah musim ketika akar sedang tumbuh jauh lebih dalam daripada yang dapat dilihat.

Orang yang telah melewati musim-musim itu mulai memandang manusia dengan cara yang berbeda.

Ia tidak lagi mudah menghakimi.

Sebab ia tahu setiap senyum mungkin sedang menyembunyikan luka.

Setiap kemarahan mungkin lahir dari kepedihan yang lama dipendam.

Exit mobile version