Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky Ungkap Ancaman Inflasi Impor dan Daya Beli: Stabilitas Rupiah Butuh Sinergi Lintas Lembaga!

Teuku Riefky menegaskan bahwa koordinasi lintas institusi dan transparansi kebijakan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor serta mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan bahwa perlambatan ekonomi dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, kecenderungan proteksionisme, fragmentasi ekonomi global, serta volatilitas harga energi.

Menurut Teuku Riefky, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF menjadi sekitar 3,0% pada 2026 mencerminkan meningkatnya risiko eksternal yang dapat memengaruhi neraca perdagangan, arus modal, dan stabilitas nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia menjelaskan, konflik geopolitik di Timur Tengah, perang Rusia–Ukraina, serta gangguan jalur pelayaran di Laut Merah berpotensi menghambat pasokan energi dan meningkatkan biaya logistik internasional.

“Kondisi tersebut dapat mendorong inflasi impor, meningkatkan biaya produksi, dan memberi tekanan terhadap posisi eksternal Indonesia serta nilai tukar rupiah,” ujar Teuku Riefky kepada awak media, Jumat (31/7/2026).

Dari sisi domestik, Teuku Riefky menilai fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Namun, struktur pertumbuhan ekonomi dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dalam menciptakan lapangan kerja formal yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas.

Penyusutan kelas menengah, meningkatnya pengangguran pada usia produktif, serta bertambahnya kelompok rentan dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat. Di sisi lain, perlambatan sektor manufaktur dan meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor informal turut memperbesar kerentanan ekonomi rumah tangga.

Menurutnya, kondisi tersebut berisiko menekan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Kenaikan biaya energi, perlambatan pertumbuhan upah riil, terbatasnya kesempatan kerja formal, serta tekanan inflasi dapat memengaruhi kepercayaan pasar dan meningkatkan risiko arus modal keluar yang pada akhirnya memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.