Perseroan juga sedang memproses sertifikasi manajemen risiko ISO 31000:208 guna melengkapi perlindungan operasional perusahaan.
Divisi khusus memantau berkala indikator risiko keamanan sistem TI guna mencegah potensi kebocoran data.
“Direksi juga memonitor berbagai Key Risk Indicator setiap bulan, mulai dari kualitas kredit, likuiditas, transaksi operasional hingga keamanan sistem teknologi informasi. Langkah ini dilakukan agar potensi risiko dapat diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini,” katanya.
Pengawasan ketat berbuah manis pada kepercayaan publik yang tefokus pada penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp21,11 triliun.
Tingkat kesehatan bank bertahan pada Peringkat Komposit 2 yang menandakan kondisi operasional berada pada kategori sangat sehat.
Edukasi internal secara bertahap terus disuntikkan ke seluruh jajaran staf melalui kampanye kesadaran risiko serta penandatanganan pakta integritas anti fraud.
Integrasi teknologi dan transparansi manajemen risiko diyakini menjadi pilar utama perlindungan nasabah di wilayah Kalimantan Barat.







