Kondisi ini sangat membantu menciptakan keseimbangan antara dunia kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance).
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai bahwa tolok ukur keberhasilan suatu kawasan hunian tidak hanya bersandar pada pembangunan fisik rumah, melainkan pada aspek konektivitasnya dengan titik-titik aktivitas publik.
“Nilai sebuah kawasan akan meningkat ketika infrastrukturnya baik, akses jalannya mudah, lingkungannya tertata, dan mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien,” kata Yayat dalam keterangan tertulisnya.
Yayat menambahkan, pembangunan infrastruktur jalan, konektivitas tol, hingga ketersediaan moda transportasi pendukung akan mengakselerasi transformasi suatu kawasan menjadi pusat pertumbuhan baru sekaligus melejitkan daya tariknya sebagai tempat tinggal pilihan.
Merespons kebutuhan pasar tersebut, para pengembang properti kini berlomba merancang fasilitas penyokong mobilitas penghuni.
Langkah konkret ditunjukkan oleh Paramount Petals yang menyediakan layanan shuttle bus melalui kolaborasi dengan White Horse Group.
Direktur Sales & Marketing Paramount Land, Ferry John Sihombing, menegaskan bahwa orientasi pengembangan kawasan saat ini melampaui sekadar pembangunan fisik rumah.
“Kami ingin menghadirkan kota yang aktif, dinamis, dan berkelanjutan. Karena itu pembangunan Paramount Petals tidak hanya berfokus pada produk hunian, tetapi juga membangun infrastruktur, fasilitas kota, serta sistem mobilitas yang semakin memudahkan aktivitas masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, tren commute-friendly home diprediksi akan terus menguat seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang tak sekadar nyaman dihuni, tetapi juga sanggup mendukung mobilitas yang efisien dan berkelanjutan.
Baca Juga: Masyarakat Terdampak Bencana di Aceh Utara Kembali Menempati Hunian Sementara Usai Perbaikan Tuntas











