Opini  

KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar di Laut: Lima Meninggal, 41 Masih Hilang

Sejumlah korban berhasil dievakuasi oleh TB Hasnur 26 dan Kapal British Mentor. Beberapa kapal lain juga merapat ke lokasi. Para korban selamat dan korban meninggal kemudian dibawa menggunakan Kapal Meratus Pematang Siantar, TB Hasnur 26, Transco Arafura, Meratus Project 3, Prakarsa Mas, dan SC Aila XVII.

Sementara itu, tim SAR terus berpacu dengan waktu. KN SAR 249 Permadi diperkirakan membutuhkan sekitar enam jam untuk mencapai lokasi. Ditjen Perhubungan Laut juga mengerahkan KN Grantin P.211. Sementara Distrik Navigasi menyiapkan KN Masalembo untuk mendukung operasi.

Pemerintah mengatakan keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi prioritas utama. Kalimat itu tentu benar. Tetapi bagi keluarga korban, prioritas bukanlah kalimat. Prioritas adalah satu hal sederhana: orang yang mereka cintai pulang.

Tragedi ini kembali mengingatkan bahwa di negeri kepulauan, laut bukan sekadar jalur transportasi. Laut adalah kehidupan sekaligus tempat yang bisa berubah menjadi kuburan dalam hitungan menit.

Ironisnya, manusia sering baru menghitung pentingnya keselamatan setelah sirene berbunyi dan api terlihat dari kejauhan. Kita terlalu sering menganggap perjalanan sebagai rutinitas, sampai sebuah musibah mengingatkan bahwa pulang sebenarnya adalah kemewahan.

Malam nanti, mungkin 225 orang yang selamat akan memeluk keluarganya dengan tangan gemetar. Tetapi 41 keluarga masih menunggu.

Mereka mungkin duduk di depan televisi. Menatap ponsel. Membuka pesan berkali-kali. Berdoa dengan kalimat yang sama. “Ya Allah, kembalikan orang kami.”

Semoga laut segera mengembalikan mereka. Untuk lima jiwa telah pergi, semoga perjalanan terakhir mereka berakhir di tempat yang jauh lebih damai dari dunia yang baru saja mereka tinggalkan. Sebab kapal boleh terbakar, baja boleh tenggelam, tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan, cinta tidak pernah ikut karam.

Jamani

Exit mobile version