Opini  

8 Jam Menunggu Maut, Pasien Minta Kamar, Malah Disuruh Potong Nadi

8 Jam Menunggu Maut, Pasien Minta Kamar, Malah Disuruh Potong Nadi/(Foto Ai hanya ilustrasi)

MAAF agak telat bahas tenaga kesehatan (nakes) paling kurang ajar di dunia. Pasien sudah mau sakratul maut, nulis pesan terakhir, lalu dibalas nakes dengan kalimat, potong aja nadinya. Beberapa hari kemudian, nyawa melayang. Spesies nakes langka hanya ada di negeri ini. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Ada dua jenis orang menghadapi kematian. Yang takut mati dan yang malah sibuk mengetik komentar sambil menertawakan orang yang sedang berjuang hidup. Yurizal Tri Chaerawan mungkin termasuk pertama. Pada 22 Juli 2026, ia menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.”

Delapan jam, wak! Kalau menunggu gorengan mungkin sebentar. Kalau tubuh sedang sakit, delapan jam bisa terasa seperti delapan tahun. Yurizal takut menyebut nama rumah sakit karena khawatir didiskriminasi gara-gara memakai BPJS.

Ironisnya, yang datang bukan pertolongan, melainkan komentar yang membuat akal sehat ingin resign. Ada menyuruhnya masuk ruang jenazah agar cepat mendapat kamar. Akun @widhiyarini bahkan menulis, “Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan.”

Potong nadi! Ini rumah sakit atau audisi film horor?

Dokter RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Renanda Maulidya Fadyla, menulis, “bacot nih pasien.” Tenaga kesehatan berinisial NZ dari RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya menghina Yurizal dengan menyebutnya miskin harta, miskin akal, tetapi ingin diistimewakan. Akun @erudarahaadini ikut menyindir kemampuan berpikir Yurizal.

Pasien sedang berjuang hidup, malah disambut seperti sedang mengganggu jam istirahat kerajaan. Sahabat Yurizal, Firhan Arief, kemudian mengungkap, Yurizal menangis setelah membaca komentar-komentar tersebut. Ia sudah sakit secara fisik. Kini hatinya ikut dihantam.

Pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia.

Apakah komentar-komentar itu menyebabkan kematiannya? Jangan asal menyimpulkan. Penyebab medis harus dibuktikan secara medis. Namun satu hal jelas, komentar seperti itu sungguh kejam. Boleh masuk kategori, biadab. Apalagi diarahkan kepada orang yang sedang sakit dan menunggu pertolongan.

Setelah Yurizal meninggal, permintaan maaf bermunculan. Whidiyarini Pangestika mengakui komentarnya tidak profesional dan menambah beban emosional keluarga almarhum. Maaf tentu penting. Tetapi ada maaf yang datang seperti ambulans setelah jenazah dibawa pulang.

Exit mobile version