HAMPIR semua daerah bermimpi lokasi wisatanya ramai dikunjungi turis asing atau bule. Pemda berdoa agar turis datang. Hotel berdoa agar kamar penuh. Restoran berdoa agar meja tidak kosong. Pedagang berdoa agar dompet wisatawan terbuka. Bahkan mungkin tukang parkir ikut berdoa. Pokoknya, bule datang = ekonomi senang.
Tetapi, coba lihat Bali hari ini. Pulau Dewata sudah bukan sekadar ramai. Sudah crowded. Terlalu banyak manusia, kendaraan, vila, sampah, bisnis, dan masalah yang ikut datang bersama koper.
Tahun 2025, Bali menerima 6,9 juta turis asing, melampaui rekor sebelum pandemi. Pada semester pertama 2026 saja, Imigrasi telah mendeportasi 342 warga negara asing karena berbagai pelanggaran, mulai dari overstay, kerja ilegal, hingga mengganggu ketertiban umum.
Di titik tertentu, turis awalnya dianggap berkah mulai berubah menjadi pekerjaan rumah. Bahkan mungkin sudah masuk kategori, “Ya Tuhan, ini tamu kok betah sekali?”
Kasus terbaru terjadi di Canggu. Komunitas digital nomad Entourage Bali menggelar Bali Silent Disco Run. Peserta berlari pagi sambil menggunakan headphone. Konsepnya memang unik. Orang berlari. Musik berdentum di telinga. Jalanan ramai. Semua orang seperti berada di dunia masing-masing.
Tetapi masalahnya bukan orang berlari. Masalahnya, sistem pendaftaran kegiatan itu diduga menolak peserta dengan nama Indonesia atau nomor telepon lokal. Sementara suami bule dari perempuan Indonesia justru diterima.
Nah, ini sudah masuk level, “Bali punya orang Bali, tetapi orang Bali tidak punya password.”
Penyelenggaranya adalah dua warga Belanda, JAS (35), pemegang ITAS kerja, dan HQV (37), pemegang ITAS investor. Keduanya berdalih penolakan peserta Indonesia hanyalah kesalahan sistem otomatis. Mereka menyatakan peserta Indonesia mencapai hampir 25 persen.
Namun Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko tidak menganggap perkara ini sebagai bug biasa. Kegiatan tersebut disebut mengandung diskriminasi dan mirip “negara dalam negara.” Keduanya kemudian pergi ke Singapura dan dicekal masuk kembali ke Indonesia.
Ironinya luar biasa. Orang Indonesia mau mengikuti acara lari di Indonesia, tetapi sistem digital seperti berkata, “Paspor mana?” Padahal ini bukan Schengen. Ini Canggu.
Belum selesai. Keluhan warga terhadap sebagian warga asing juga muncul di jalan raya. Ada naik motor tanpa helm, tanpa pelat nomor, bahkan melakukan wheelie. Aspal Bali seolah berubah menjadi Sirkuit Mandalika cabang Canggu.
Ada pula memprotes upacara adat karena musiknya terlalu keras. Tradisi masyarakat yang sudah berlangsung turun-temurun tiba-tiba harus bernegosiasi dengan seseorang mungkin baru enam bulan menyewa vila.
Kemudian muncul persoalan usaha ilegal. Mulai dari rental motor, kursus, hingga praktik kesehatan tanpa izin. Uang wisatawan pun berpotensi berputar di antara sesama orang asing.
