Opini  

Paradok Bali, Ingin Turis Asing, tapi Dibuat Pusing Bule

Paradok Bali, Ingin Turis Asing, tapi Dibuat Pusing Bule/(FKN)

Sementara warga lokal menghadapi harga properti yang semakin mahal. Harga naik. Sewa naik. Kemacetan naik. Sampah naik. Air bersih tertekan. Yang turun? Mungkin cuma kesabaran warga.

Yang lebih absurd, ada warga asing viral menyebut Bali sebagai “neraka dunia” karena kemacetan. Ini lucu. Datang membawa kendaraan. Kendaraan bertambah. Jalan tidak bertambah. Kemudian marah karena macet. Itu seperti datang ke warung membawa 500 orang, lalu protes karena meja tidak cukup.

Pemerintah daerah dan Imigrasi akhirnya mulai bertindak lebih tegas. Ratusan warga asing dideportasi. Izin diperketat.

Gubernur Bali Wayan Koster juga berjanji membersihkan Bali dari turis yang tidak menghormati aturan. Tetapi persoalan Bali sebenarnya jauh lebih rumit. Sebab inilah paradoksnya.

Bali ingin turis asing. Tetapi ketika turis terlalu banyak, Bali pusing. Turis membawa uang. Tetapi juga membawa kendaraan. Membawa investasi. Tetapi harga tanah ikut naik. Membawa lapangan kerja. Tetapi sebagian orang asing juga membuka usaha secara ilegal. Membawa popularitas. Tetapi infrastruktur semakin terbebani.

Bali akhirnya seperti orang yang mengundang tamu makan malam. Awalnya berkata, “Silakan ambil sebanyak-banyaknya!” Tamu datang. Satu. Seratus. Seribu. Juta. Lalu tuan rumah mulai berbisik, “Mas… nasinya tinggal sedikit.” Tamu menjawab, “Santai. Kami masih lapar.”

Inilah persoalan sesungguhnya. Bali tidak boleh menjadi anti-bule. Turis asing bukan musuh. Pariwisata tetap penting. Yang menjadi persoalan adalah ketika jumlah, perilaku, dan aktivitas sebagian wisatawan melampaui daya dukung serta aturan berlaku.

Sebab Pulau Dewata bukan sekadar destinasi. Di sana ada manusia lahir, bekerja, bersekolah, beribadah, dan membesarkan anak. Mereka bukan figuran dalam brosur pariwisata. Maka jangan sampai terjadi ironi paling menyakitkan, turis datang untuk menikmati Bali, tetapi orang Bali justru tidak bisa menikmati Bali.

Jangan sampai warga lokal akhirnya menjadi turis di tanah sendiri. Jangan sampai Bali yang selama puluhan tahun dipromosikan sebagai surga dunia, perlahan berubah menjadi surga bagi wisatawan tetapi neraka bagi penduduknya.

Karena kalau sudah sampai pada titik itu, pemerintah akan menghadapi pertanyaan paling absurd, “Kita sebenarnya sedang menjual Bali kepada turis, atau sedang menjual Bali dari tangan orang Bali?”

Itulah paradoks Pulau Dewata. Ingin turis asing datang sebanyak-banyaknya. Tetapi ketika mereka datang terlalu banyak dan sebagian mulai bertingkah seenaknya…Bali pula yang dibuat pusing oleh bule.

Penulis: Jamani

Exit mobile version