Kasus-kasus seperti MBG yang dibawa pulang tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi BGN untuk terus mengedukasi para penerima manfaat agar sadar akan pentingnya keamanan pangan.
“Jadi, misalnya dia sudah benar semua dapurnya, kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang juga masih sesuai, jam 9 atau 10 pagi, lalu benar, mulai dari selesai masak sampai dimakan, tetapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain, sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, melainkan termasuk anggota keluarga yang mengkonsumsi makanan itu. Ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi,” tuturnya.
Sebelumnya dilaporkan sejumlah siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (5/8/2026) pagi.
Setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat Jayapura (RSUP Jayapura), delapan pasien yang diduga mengalami insiden keamanan pangan tersebut berangsur membaik, bahkan satu pasien telah diizinkan pulang. (adm)
