“Sekarang harga gabah basah sudah bisa mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram. Itu jauh lebih menguntungkan bagi petani. Kami juga lebih mudah mendapatkan pupuk, biaya usaha tani lebih ringan, dan air untuk sawah lebih terjamin. Saya benar-benar merasakan perhatian pemerintah kepada petani,” ujar Jarwanto.
Manfaat senada diutarakan oleh Marjoko, Ketua Gapoktan Margo Mulyo di Desa Jetis, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia menilai kepastian harga panen memberi ketenangan bagi masyarakat desa.
“Sekarang harga gabah sudah menguntungkan petani. Kami tidak lagi khawatir harga turun saat panen karena pemerintah hadir menjaga harga. Ini membuat petani lebih semangat untuk terus meningkatkan produksi,” katanya.
Marjoko menambahkan, bantuan mekanisasi dari Kementan mempercepat pengerjaan lahan secara dramatis.
“Bantuan alsintan yang kami terima, terbaru satu unit rotavator, sangat membantu pekerjaan petani. Pengolahan lahan menjadi lebih cepat, biaya bisa ditekan, dan pekerjaan menjadi lebih efisien. Bantuan seperti ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anggota kelompok tani,” ungkapnya.
Rekor NTP pada Juli 2026 ini membuktikan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian Indonesia kini selaras antara pertumbuhan produksi nasional dan peningkatan taraf hidup jutaan keluarga petani.
Baca Juga: Genjot Swasembada Pangan, Kementan dan TNI Kebut Cetak Sawah 7.000 Hektare di OKI











