Tetapi secara jurnalistik, bagian paling menarik justru bukan ketika kandang dibuka.
Yang menarik adalah pertanyaan: berapa lama seekor satwa harus belajar kembali menjadi liar?
Jawabannya bisa lebih dari satu dekade.
Manusia sering menganggap rehabilitasi sebagai proses sederhana: menyelamatkan satwa, merawatnya, lalu melepasnya.
Padahal bagi satwa seperti orangutan, rehabilitasi merupakan pendidikan seumur hidup.
Pusat rehabilitasi harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan satwa belajar kembali.
Mereka tidak cukup diberi makan.
Mereka harus memperoleh kesempatan mencari makanan.
Tidak cukup diberi pohon.
Mereka harus belajar menggunakan pohon.
Tidak cukup diberi tempat tidur.
Mereka harus belajar membuat sarang.
Dengan kata lain, rehabilitasi yang sukses pada akhirnya justru membuat manusia semakin tidak dibutuhkan.
Ketika Himba, Lykke, Farida, Nett dan Semeru kembali ke hutan, manusia berharap mereka tidak kembali lagi kepada manusia.
Itulah paradoks konservasi.
Keberhasilan bukan ketika satwa semakin dekat dengan manusia.
Keberhasilan adalah ketika satwa mampu menjauh dan hidup mandiri di habitatnya.
Himba adalah contoh ekstrem dari proses tersebut.
Seekor bayi yang pernah diselamatkan dari kebakaran membutuhkan waktu 14 tahun sebelum dianggap siap pulang.
Dan ketika akhirnya pulang, yang ditunggu bukan ucapan terima kasih.
Yang ditunggu adalah jejaknya semakin jauh masuk ke hutan. (*)







