Perjuangan tidak selalu harus dilakukan dengan senjata.
Ada masa ketika seseorang harus berjuang dengan ilmu. Ada masa ketika perjuangan dilakukan dengan keteguhan moral. Ada pula masa ketika perjuangan cukup dilakukan dengan menjaga nilai-nilai yang diyakini benar.
Cut Nyak Dhien menunjukkan bahwa perjuangan memiliki banyak bentuk.
Ia meninggal di Sumedang pada 6 November 1908. Ia memang wafat jauh dari Aceh, tanah kelahirannya. Tetapi jarak geografis tidak pernah benar-benar mampu memisahkan seorang manusia dari warisan perjuangannya.
Pada 1964, pemerintah Indonesia menetapkan Cut Nyak Dhien sebagai Pahlawan Nasional secara anumerta.
Gelar tersebut tentu penting. Tetapi menurut saya, gelar bukanlah inti dari kepahlawanannya.
Seorang pahlawan tidak menjadi besar karena namanya ditulis di buku pelajaran. Ia menjadi besar karena pilihan hidupnya meninggalkan sesuatu bagi generasi setelahnya.
Cut Nyak Dhien telah menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar penonton dalam sejarah perjuangan bangsa. Ia dapat menjadi pemimpin, pengambil keputusan, penggerak perlawanan, sekaligus pendidik.
Karena itu, kisah Cut Nyak Dhien seharusnya tidak berhenti pada upacara, gambar di dinding sekolah, nama jalan, atau hafalan tanggal.
Kita perlu bertanya lebih jauh: apa yang sebenarnya ingin diwariskan oleh sejarah kepada generasi hari ini?
Mungkin jawabannya adalah keberanian untuk tidak menyerah kepada keadaan.
Namun, keberanian tidak boleh dipahami secara sempit sebagai keberanian berperang. Pada zaman sekarang, musuh kita jauh lebih beragam. Kebodohan, korupsi, ketidakadilan, kemalasan, kebencian, intoleransi, dan ketidakpedulian juga dapat merusak bangsa.
Jika dahulu Cut Nyak Dhien berjuang menghadapi kolonialisme, generasi sekarang memiliki tanggung jawab menghadapi persoalan zamannya sendiri.
Seorang pelajar dapat meneruskan semangat perjuangan melalui pendidikan. Seorang jurnalis dapat melakukannya melalui keberanian menyampaikan fakta. Seorang pejabat dapat melakukannya dengan bekerja jujur. Seorang guru dapat melakukannya dengan mendidik generasi muda. Seorang masyarakat biasa pun dapat melakukannya dengan tidak membiarkan ketidakadilan menjadi sesuatu yang dianggap normal.
Inilah alasan mengapa sejarah tidak boleh hanya menjadi masa lalu.
Sejarah seharusnya menjadi cermin.
Ketika kita melihat Cut Nyak Dhien, kita sebenarnya sedang melihat pertanyaan besar tentang diri sendiri: apakah kita masih memiliki keteguhan ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan?
Kita mungkin tidak akan pernah hidup dalam situasi seperti yang dialaminya. Kita tidak harus masuk hutan, memimpin pasukan, atau berhadapan dengan tentara kolonial.
Tetapi kita pasti akan menghadapi kehilangan, kegagalan, tekanan, dan keadaan yang memaksa kita memilih antara bertahan atau menyerah.
Di situlah semangat Cut Nyak Dhien menjadi relevan.
Ia mengajarkan bahwa seseorang boleh lelah, boleh menangis, boleh kehilangan, bahkan boleh terluka. Tetapi jangan biarkan penderitaan menghilangkan prinsip hidup.
Pada akhirnya, Cut Nyak Dhien bukan hanya milik Aceh. Ia adalah bagian dari ingatan Indonesia tentang harga yang pernah dibayar untuk mempertahankan martabat dan kebebasan.
Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak lahir dari ruang kosong. Di belakangnya terdapat manusia-manusia yang pernah kehilangan rumah, keluarga, kesehatan, harta, bahkan nyawa.
Karena itu, memperingati perjuangan Cut Nyak Dhien bukan sekadar mengenang seorang perempuan pemberani.
Kita sedang mengingat bahwa kebebasan memiliki harga.
Dan barangkali, bentuk penghormatan terbaik kepada para pahlawan bukan hanya menyebut nama mereka setiap tahun, melainkan memastikan bahwa nilai yang mereka perjuangkan tidak mati bersama mereka.
Cut Nyak Dhien telah pergi sejak 1908. Tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya masih hidup sampai hari ini:
Jika mereka dahulu rela kehilangan segalanya demi Indonesia, lalu apa yang bersedia kita korbankan untuk menjaga Indonesia?[dit]
