Tetapi sementara birokrasi menyimpan detail hasil pemeriksaan, anak-anak tidak bisa menunggu. Mereka membutuhkan obat, jawaban, dan jaminan kejadian serupa tidak akan kembali.
Di sinilah ironi itu menjadi begitu kejam. Omprengan yang kemarin menghantar ratusan anak ke ambang maut, malam berikutnya justru diarak dengan penuh kemegahan.
Di satu sisi, lampu panggung menyala terang. Di sisi lain, lampu bangsal rumah sakit menerangi wajah para ibu yang basah oleh air mata. Di satu sisi, tepuk tangan bergemuruh. Di sisi lain, doa-doa dipanjatkan dengan suara lirih.
Di satu sisi, omprengan diangkat seperti trofi kemenangan. Di sisi lain, anak-anak masih berjuang mengalahkan sakit. Inilah tragedi paling getir dari sebuah program yang dilahirkan untuk menghadirkan harapan.
MBG seharusnya membuat anak-anak kenyang dan sehat. Bukan membuat orang tua berjaga di samping ranjang rumah sakit. Sebab bagi seorang ibu, anak sehat jauh lebih berharga dari seribu panggung yang gemerlap.
Bagi seorang ayah, permintaan maaf tidak akan pernah cukup jika kelalaian masih mungkin berulang. Bagi anak-anak Karo, mereka tidak membutuhkan seremoni. Mereka hanya ingin pulang. Pulang ke rumah. Pulang dengan tubuh sehat. Pulang tanpa rasa takut pada makanan yang seharusnya menjadi berkah.
Maka di antara gemerlap panggung dan sunyi bangsal rumah sakit, pertanyaan itu menggantung seperti awan hitam, apakah tepuk tangan mampu menutupi tangisan para ibu? Tidak.
Negara bukan dinilai dari seberapa megah ia mengarak omprengan. Negara diuji dari seberapa aman makanan sampai ke tangan anak-anaknya. Malam itu, di balik gemuruh tepuk tangan, masih ada 64 anak yang diam-diam mengajarkan kita satu hal, harapan tidak boleh disajikan dengan kelalaian.
Yok, kita seruput Koptagul, wak!
Penulis: Rosadi Jamani
