FAKTANASIONAL.NET – Sebuah produk sederhana mendadak menjadi bahan perdebatan nasional. Produk itu adalah sepatu berbahan karet yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diperkenalkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Sepatu tersebut disorot setelah diperkenalkan dalam pameran hasil riset di Istana Kepresidenan Jakarta, 6 Agustus 2026. Produk itu disebut menggunakan material karet lokal dan ditargetkan dapat dijual mulai sekitar Rp75.000 per pasang.
Secara teknis, produk tersebut bukan sekadar sepatu biasa. BRIN menjelaskan bahwa sepatu itu menggunakan teknologi one piece injection molding, sehingga bagian sol dan bagian atas sepatu dapat menyatu tanpa menggunakan lem. Produk tersebut dirancang agar ringan, empuk, dan tahan lama.
Namun, di media sosial, sebagian warganet justru mempertanyakan mengapa lembaga riset negara banyak mendapat perhatian publik melalui produk seperti sepatu, genteng, makanan olahan, dan berbagai produk kebutuhan sehari-hari.
Pertanyaan tersebut sebenarnya bukan kritik terhadap sepatu itu sendiri.
Sepatu murah tentu bermanfaat. Jika produk tersebut benar-benar dapat membantu masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, menggunakan bahan baku lokal, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, maka riset tersebut memiliki nilai ekonomi.
Persoalannya adalah bagaimana masyarakat menilai prioritas lembaga riset nasional. Ini BRIN, loh. Kok, menghasilkan sepatu, yang dianggap masyarakat terlalu sederhana.
BRIN merupakan lembaga yang membawa nama besar riset dan inovasi nasional. Karena itu, masyarakat tentu berharap hasil risetnya tidak hanya menghasilkan produk yang terlihat sederhana, tetapi juga menghasilkan teknologi yang dapat memperkuat industri, meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan impor, serta menjawab persoalan strategis bangsa.
Inilah inti kritik yang muncul di media sosial.
Sejumlah warganet mempertanyakan apakah riset semacam sepatu karet sudah mencerminkan skala prioritas lembaga penelitian nasional. Ada pula yang mempertanyakan hubungan antara besarnya anggaran negara untuk riset dengan produk yang kemudian diperlihatkan kepada publik.
Kritik tersebut perlu dibaca secara hati-hati.
Sebuah produk sederhana tidak otomatis berarti penelitian yang buruk. Banyak teknologi besar justru berawal dari produk sederhana.
Sepatu, misalnya, memiliki rantai industri yang panjang, mulai dari bahan baku, desain, teknologi produksi, ketahanan material, hingga pemasaran.
Jika BRIN berhasil mengembangkan teknologi produksi sepatu murah yang kemudian dapat digunakan industri nasional dalam jumlah besar, dampaknya bisa jauh lebih luas daripada sekadar sepasang sepatu.







