Ayah korban, Ramadhan Alam, saat diwawancarai wartawan mengatakan, memang Ryan menggunakan akun milik Ramadhan.
Ramadhan: “Anak saya Ryan nyopir, tujuannya membantu nafkah keluarga. Ia baru lulus Taruna Perkapalan. Ia sudah diterima bekerja di kapal. Minggu depan ia mulai kerja di kapal.”
Dari keterangan Ramadhan, pantas saja kedua pelaku rahu-ragu mengeksekusi korban. Ryan berbadan kekar. Tapi, jeratan ikat pinggang dari arah belakang membuat Ryan sulit melawan. Dari situ, kelihatan pola pikir penjahat.
Gavin de Becker dalam bukunya The Gift of Fear: Survival Signals That Protect Us from Violence (Little, Brown Company, 1997) mengungkap pola pikir perampok yang niat membunuh korban.
Buku ini bukan teori kriminologi murni, tetapi fokus pada pola pikir perampok-pembunuh sebelum bertindak. Ada dua hal yang mereka lakukan sebelum bertindak: Seleksi korban dan evaluasi tatap muka dengan korban sebelum dibunuh.
Becker dalam bukunya menyatakan, bahwa kekerasan tidak terjadi secara benar-benar acak. Sebelum kekerasan dilakukan, pelaku menjalankan suatu proses penilaian terhadap calon korban. De Becker menyebut proses ini sebagai “interview”, yakni pelaku mengamati dan “menguji” calon korban untuk mengetahui apakah orang tersebut mudah diatasi.
Dalam proses itu, pelaku membaca perilaku, keadaan, dan respons calon korban.
Becker secara eksplisit membahas victim selection. Menurutnya, pelaku tidak memilih korban secara sembarangan. Ada karakteristik tertentu yang membuat seseorang tampak lebih sesuai sebagai target.
Penampilan atau tipe tertentu dapat menjadi salah satu unsur yang diperhatikan pelaku. Tetapi faktor yang juga sangat penting ialah accessibility, setting, dan circumstance. Seberapa mudah korban diakses dan seberapa menguntungkan situasinya bagi pelaku?
Misalnya, seorang perampok hendak merampok mobil taksi online. Ia sebelumnya melihat profil calon driver melalui aplikasi. Dari foto profil, pelaku memperoleh kesan awal mengenai usia, jenis kelamin, ukuran tubuh atau kemungkinan kemampuan fisik seseorang melawan.
Tetapi foto itu sendiri belum menentukan keputusan. Ketika kendaraan datang, pelaku masih dapat melakukan penilaian lanjutan: apakah driver tampak kuat, waspada, mudah diajak bicara, sendirian, atau berada dalam posisi yang sulit meminta pertolongan.
Pelaku mencari mangsa yang memungkinkan keberhasilan, dengan risiko relatif kecil.
Putra Netanyahu Dievakuasi dari AS, Shin Bet Ungkap Ancaman Pembunuhan Iran
Pada kasus pembunuhan Ryan, para pelaku tidak mengenakan masker. Sehingga wajah-wajah pelaku dikenali Ryan. Seumpama para pelaku mengenakan masker, pasti sangat mencurigakan di mata korban. Ada kemungkinan, korban langsung menolak ketika para pelaku bermasker.
Sebaliknya, sesuai teori Backer, sebelum eksekusi pelaku ingin menganalisis calon korban. Jadi, pelaku pilih tidak mengenakan masker saat masuk taksi.
Ada satu bagian teori de Becker yang sangat relevan soal pelaku tidak pakai masker. Dalam kerangka victim selection, pelaku pada dasarnya berusaha mengendalikan situasi dan menghindari risiko yang dapat menggagalkan kejahatan.
Bila korban dapat mengenali wajah pelaku, maka identitas pelaku menjadi lebih mudah diketahui. Secara kriminologis, itu dapat dipandang sebagai risiko tambahan bagi pelaku.
Karena itu, pemakaian masker dapat mempunyai fungsi bukan hanya untuk menyembunyikan identitas, tetapi juga untuk mengurangi kemungkinan korban kelak mengenali pelaku.
Proses seleksi korban dan pengendalian situasi oleh pelaku tidak otomatis berarti pembunuhan. Kekerasan dapat meningkat ketika pelaku merasa identitasnya terancam, korban melakukan perlawanan, atau situasi keluar dari kendali.
Dendam Lama Bersemi di Bandara: Mengungkap Motif Kelam Pembunuhan Nus Kei
Pada kasus pembunuhan Ryan, tampak bahwa kedua pelaku sudah ragu melakukannya. Antara ya dan tidak. Sehingga lokasi tujuan taksi diperjauh, agar para pelaku punya waktu berpikir dan menganalisis situasi dan kondisi.
Jika disimak, jeratan ikat pinggang dari arah belakang korban butuh kecepatan tinggi bagi pelaku. Jeratan itu pastinya melilit, setidaknya satu kali putaran. Jika tidak dililit, korban bisa dengan gampang menahan jeratan dengan kedua tangan. Sebab, antara pelaku dan korban terhalang sandaran jok setinggi di atas kepala korban.
Betapapun, naas bagi korban. Para pelaku dijerat Pasal 459 KUHP, pembunuhan berencana. Ancaman maksimal hukuman mati. Setidaknya penjara seumur hidup. (*)
