Kita harus kembali dengan kedewasaan yang dahulu tidak kita miliki.
Aku berharap kau memahami sesuatu yang mungkin selama ini terlalu berat untuk diterima:
kitalah yang harus memperjuangkan hidup kita.
Bukan keluargamu.
Bukan keluargaku.
Bukan teman-teman kita.
Bukan orang lain.
Mereka dapat memberi nasihat. Mereka dapat membantu ketika kita jatuh. Mereka dapat menunjukkan jalan.
Tetapi pada akhirnya, hanya kita yang akan hidup dengan keputusan yang kita buat.
Hanya kita yang akan menghadapi konsekuensinya.
Karena itu, jika suatu hari kita memilih untuk bersama kembali, jangan biarkan kehidupan kita ditentukan oleh ketakutan, tekanan, atau suara orang lain.
Kita harus cukup dewasa untuk menentukan apa yang benar bagi kehidupan kita sendiri.
Mencintai keluarga bukan berarti menyerahkan seluruh hidup kepada mereka.
Menghormati orang lain bukan berarti kehilangan hak untuk memilih masa depan sendiri.
Dan mempertahankan hubungan bukan berarti salah satu dari kita harus terus-menerus mengalah sampai kehilangan dirinya.
Aku tidak membencimu.
Kebencian terlalu berat untuk dibawa oleh seseorang yang pernah mencintai dengan sungguh-sungguh.
Aku hanya tidak ingin kehilangan diriku lagi demi mempertahankanmu.
Jika suatu hari kau kembali, datanglah bukan sebagai seseorang yang ingin diselamatkan.
Datanglah sebagai seseorang yang telah belajar berdiri.
Jangan datang karena kesepian.
Datanglah karena kau benar-benar ingin membangun kehidupan yang baru.
Jangan meminta kita mengulang masa lalu.
Jika kita diberi kesempatan, mari kita menciptakan sesuatu yang lebih baik daripada masa lalu itu.
Aku tidak membutuhkan kesempurnaan.
Aku hanya membutuhkan kesungguhan.
Kesediaan untuk belajar.
Keberanian untuk mengakui kesalahan.
Dan kemauan untuk tetap memilih satu sama lain ketika keadaan tidak lagi mudah.
Sebab aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang hanya kau cari ketika semuanya runtuh.
Aku ingin, jika kita bersama, menjadi seseorang yang kau pilih ketika kehidupan sedang kita bangun.
Aku ingin kita menjadi dua manusia yang tidak saling bergantung untuk bertahan hidup, tetapi dengan sadar memilih untuk berjalan bersama.
Dua manusia yang tahu bahwa cinta bukan sekadar rasa.
Cinta adalah keputusan.
Cinta adalah tanggung jawab.
Cinta adalah keberanian untuk berkata:
“Aku memilihmu, dan aku akan menjaga pilihan ini.”
Mungkin pada akhirnya kau memang kehilangan aku.
Tetapi kau tidak kehilangan seseorang hanya dalam satu hari.
Aku pergi sedikit demi sedikit.
Dalam setiap kata yang kau ingkari.
Dalam setiap pilihan yang membuatku merasa sendirian.
Dalam setiap kesempatan ketika kau memilih sesuatu yang terus melukai kita.
Aku pergi jauh sebelum tubuhku benar-benar meninggalkanmu.
Dan mungkin itulah kehilangan yang paling sunyi:
Ketika seseorang masih berada di depan mata, tetapi hatinya telah selesai berharap.
Kini aku tidak lagi menunggumu.
Tetapi aku juga tidak menutup kemungkinan bahwa dua manusia yang pernah saling mencintai dapat menemukan jalan baru, jika keduanya benar-benar telah belajar.
Jadi, jika kau benar-benar ingin kembali, jangan kembali hanya karena kau merindukanku.
Kembalilah setelah kau memahami siapa dirimu, apa yang kau inginkan, dan kehidupan seperti apa yang ingin kau perjuangkan.
Kembalilah jika kau telah cukup dewasa untuk memilih hidupmu sendiri.
Kembalilah jika kau siap memperbaiki, bukan sekadar meminta maaf.
Kembalilah jika kau siap mencintai tanpa kehilangan dirimu dan tanpa memintaku kehilangan diriku.
Karena jika kita masih memiliki kesempatan, aku tidak ingin kita menjadi dua manusia yang saling menyelamatkan.
Aku ingin kita menjadi dua manusia yang telah mampu berdiri sendiri, lalu memilih untuk berdiri berdampingan.
Dan jika kau belum mampu melakukan itu, jangan datang.
Biarkan aku tetap menjadi bagian dari masa lalu yang pernah mengajarkanmu arti kehilangan.
Sebab mungkin, kau memang kehilangan aku.
Tetapi semoga suatu hari kau memahami bahwa yang sebenarnya hilang bukan hanya seseorang yang mencintaimu.
Kau kehilangan seseorang yang pernah percaya kepadamu ketika dirimu sendiri belum mampu mempercayai dirimu.
Dan aku tidak tahu apakah kehidupan akan memberi kita kesempatan kedua.
Tetapi jika kesempatan itu datang, aku tidak ingin kembali kepada kita yang dahulu.
Aku hanya ingin bertemu denganmu sebagai dua manusia yang telah belajar menjadi dewasa—lalu bertanya sekali lagi, Apakah kali ini kita benar-benar siap memperjuangkan hidup kita sendiri, dan hidup yang mungkin kita bangun bersama?[dit]
By: Gubahan A
