MANUSIA bisa memiliki hampir segalanya, tetapi tetap merasa hidupnya belum sempurna.
Uang bertambah, tetapi ketenangan belum tentu ikut datang. Jabatan naik, tetapi kecemasan kehilangan posisi justru semakin besar.
Popularitas tumbuh, tetapi kebutuhan untuk terus mendapatkan pengakuan tidak pernah benar-benar selesai.
Kita menyebutnya kesuksesan. Kita mengejarnya sejak pagi, membicarakannya sepanjang hari, bahkan rela mengorbankan banyak hal untuk mendapatkannya.
Namun ketika semua yang dikejar akhirnya berada dalam genggaman, mengapa hati masih bertanya: Apa lagi?
Barangkali karena sejak awal kita keliru menaruh harapan.
Kita mencari kebahagiaan di tempat yang memang tidak pernah berjanji untuk memberikannya.
Dunia menawarkan harta, tetapi tidak menjanjikan ketenangan. Dunia menawarkan jabatan, tetapi tidak menjamin kehormatan.
Yah.. kadang dunia memberikan popularitas, tetapi tidak mampu memastikan seseorang benar-benar dicintai.
Bahkan dunia mampu memberikan apa yang kita inginkan, kemudian membuat kita takut kehilangan semuanya.
Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, manusia seolah dipaksa untuk terus berlari. Belum selesai menikmati satu pencapaian, sudah muncul pencapaian lain yang harus dikejar.
Rumah belum terasa cukup besar. Penghasilan belum terasa cukup tinggi. Kendaraan belum terasa cukup mewah. Jabatan belum terasa cukup tinggi. Pengikut di media sosial belum terasa cukup banyak.
Akhirnya, kata “cukup” menjadi sesuatu yang semakin asing.
Islam Tidak Mengajarkan Kita Membenci Dunia
Menurut saya, salah satu hal penting yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa menjadi dekat dengan Allah berarti harus menjauhi dunia.
Tidak sesederhana itu.
Islam tidak melarang manusia bekerja, berdagang, menjadi kaya, memiliki rumah yang layak, membangun bisnis, mengejar pendidikan, ataupun menduduki jabatan.
Yang menjadi persoalan bukan dunia yang berada di tangan, melainkan dunia yang sudah menguasai hati.
Seseorang boleh memiliki kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan membuatnya lupa bahwa semua itu adalah amanah. Seseorang boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuatnya merasa lebih mulia daripada manusia lain.
Seseorang boleh terkenal, tetapi jangan sampai popularitas membuat penilaian manusia lebih penting daripada penilaian Allah.
Al-Qur’an bahkan memberikan keseimbangan yang sangat jelas dalam Surah Al-Qashash ayat 77: manusia diperintahkan mencari negeri akhirat melalui apa yang telah Allah karuniakan, tetapi tidak melupakan bagiannya di dunia.
Ayat yang sama juga mengingatkan agar manusia berbuat baik dan tidak membuat kerusakan di bumi.
Bagi saya, pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan sekarang.
Kita tidak diminta meninggalkan dunia.
Kita diminta menempatkan dunia pada tempatnya.
Dunia adalah sarana. Akhirat adalah tujuan.
Ketika posisi itu terbalik, manusia akan mudah kehilangan arah.
Ketika Harta Berubah Menjadi Identitas
Persoalan harta sering kali bukan pada jumlahnya.
Persoalannya adalah ketika harta berubah menjadi identitas.
Kita mulai menilai diri berdasarkan apa yang kita miliki. Kita merasa lebih berharga karena kendaraan yang kita gunakan, rumah yang kita tempati, pakaian yang kita kenakan, atau jabatan yang kita sandang.
Padahal semua itu bisa berubah dalam hitungan waktu.
Harta bisa berkurang. Jabatan bisa berakhir. Popularitas bisa hilang. Orang yang hari ini dipuji bisa saja besok dilupakan.
Kalau harga diri kita dibangun di atas sesuatu yang mudah berubah, tentu hidup akan dipenuhi kecemasan.
Al-Qur’an menggambarkan kehidupan dunia dengan bahasa yang sangat kuat. Dalam Surah Al-Hadid ayat 20, kehidupan dunia digambarkan sebagai permainan, kelengahan, perhiasan, kebanggaan, dan perlombaan memperbanyak harta serta anak.
Allah kemudian memberikan perumpamaan tentang tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, lalu menguning dan akhirnya hancur.
Bagi saya, gambaran itu terasa sangat dekat dengan kehidupan manusia.
Kita membangun sesuatu dengan susah payah, merawatnya, membanggakannya, lalu suatu hari harus melihatnya berubah atau meninggalkannya.
Bukan berarti semua yang kita bangun sia-sia.
Justru karena dunia sementara, kita harus tahu untuk apa sesuatu itu dibangun.
Rumah bukan sekadar tempat untuk menunjukkan kemampuan ekonomi. Ia bisa menjadi tempat keluarga tumbuh.
Harta bukan sekadar angka dalam rekening. Ia bisa menjadi jalan untuk membantu orang lain.
Jabatan bukan sekadar kekuasaan. Ia bisa menjadi amanah untuk memberikan manfaat.
Ketika orientasinya berubah, dunia yang sama bisa memiliki makna yang berbeda.
Qanaah Bukan Berarti Berhenti Bermimpi
Di sinilah konsep qanaah menjadi penting.
Qanaah sering disalahpahami sebagai sikap menerima kemiskinan tanpa berusaha. Menurut saya, pemahaman itu keliru.
Qanaah bukan berarti tidak boleh punya cita-cita.
Qanaah bukan berarti berhenti bekerja.
Qanaah bukan berarti menolak kesuksesan.
Qanaah adalah kemampuan hati untuk menerima apa yang Allah tetapkan tanpa berhenti melakukan ikhtiar.
Kita tetap boleh ingin hidup lebih baik.
Kita tetap boleh membangun usaha.
Kita tetap boleh mengejar pendidikan.
Kita tetap boleh memiliki target.
Tetapi kita tidak menjadikan hasil sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.
Sebab manusia hanya mampu mengusahakan sesuatu. Hasil akhirnya tetap berada di luar kendali manusia.
Di sinilah tawakal menemukan tempatnya.
Tawakal bukan duduk diam menunggu pertolongan Allah. Tawakal adalah melakukan bagian kita dengan sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Kita bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan.
Kita mencari uang, tetapi tidak menjadikan uang sebagai ukuran seluruh harga diri.
Kita mengejar jabatan, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran kemuliaan.
Kita membangun nama, tetapi tidak menjadikan pujian manusia sebagai kebutuhan utama.
Bagi saya, hidup menjadi jauh lebih ringan ketika kita memahami batas antara ikhtiar dan hasil.
Ikhtiar adalah wilayah tanggung jawab kita.
Hasil adalah wilayah kehendak Allah.
Jangan Sampai Dunia Membuat Kita Kehilangan Akhlak
Menurut saya, ujian terbesar dari dunia bukan hanya ketika kita tidak memilikinya.
Ujian yang lebih berat justru ketika kita memilikinya.
Kemiskinan bisa menguji kesabaran.
Kekayaan menguji apakah kita bersyukur.
Kegagalan menguji keteguhan.
Kesuksesan menguji kerendahan hati.
Kehilangan menguji keikhlasan.
Kekuasaan menguji keadilan.
Popularitas menguji kejujuran terhadap diri sendiri.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apakah saya berhasil?”
Tanyakan juga, “Menjadi manusia seperti apa saya setelah berhasil?”
Pertanyaan kedua jauh lebih penting.
Sebab tidak ada gunanya seseorang memiliki banyak harta jika hatinya menjadi keras. Tidak ada artinya jabatan tinggi jika ia menggunakannya untuk menindas.
Tidak ada manfaat popularitas jika digunakan untuk mempermalukan orang lain.











