Kata-Kata Gubernur Kalbar Memang Jos, Tapi Masyarakat Ingin Tindakannya

Kata-Kata Gubernur Kalbar Memang Jos, Tapi Masyarakat Ingin Tindakannya/foto: ilustrasi)

Mereka ingin melihat seberapa cepat api ditangani, seberapa kuat perlindungan terhadap warga, bagaimana kualitas udara dikendalikan, dan siapa yang bertanggung jawab ketika masalah terus berulang.

Kata-Kata Baik Harus Berubah Menjadi Kebijakan yang Terlihat

Kritik ini bukan berarti pesan antikorupsi Gubernur Kalbar tidak penting.

Justru sebaliknya.

Kalau integritas benar-benar menjadi prinsip pemerintahan, maka ukurannya bukan berhenti di podium seminar.

Integritas seharusnya terlihat dalam setiap keputusan, penggunaan anggaran, pengawasan, penegakan aturan, hingga keberanian mengambil tindakan ketika kepentingan masyarakat terancam.

Masyarakat tidak meminta gubernur memadamkan setiap titik api dengan tangannya sendiri.

Mereka meminta negara hadir melalui kewenangan yang memang berada di tangan pemerintah.

Asap tidak bisa dipadamkan dengan pidato.

Api tidak mengenal seminar.

Dan paru-paru masyarakat tidak bisa menunggu sampai acara berikutnya selesai.

Karena itu, pesan Ria Norsan tentang harta yang harus berkah patut dicatat.

Tetapi keberkahan dalam pemerintahan juga dapat diuji melalui sesuatu yang lebih konkret: apakah kewenangan yang diberikan rakyat benar-benar digunakan untuk melindungi rakyat?

Kalimat yang baik akan terdengar indah di ruangan berpendingin.

Tetapi bagi warga yang membuka pintu rumah lalu melihat langit berubah kelabu karena asap, yang mereka perlukan bukan sekadar kalimat indah.

Mereka membutuhkan udara yang lebih bersih.

Mereka membutuhkan tindakan yang cepat.

Dan mereka membutuhkan pemerintah yang tidak hanya berbicara tentang keberkahan, tetapi juga menghadirkan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab pada akhirnya, masyarakat menilai pemerintah bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi dari apa yang benar-benar dikerjakan.[dit]

Exit mobile version