PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal diposisikan sebagai program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.
Karena itu, ukuran keberhasilannya semestinya sederhana: makanan sampai kepada penerima, kualitasnya terjaga, gizinya terpenuhi, dan pelaksanaannya aman.
Namun belakangan muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: mengapa program pemerintah ini terlihat begitu sibuk mengiklankan dirinya sendiri?
Pertanyaan tersebut mengemuka setelah pemberitaan mengenai belanja iklan berbayar di platform Meta oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.
Tempo pada 22 September 2026 menyoroti aktivitas iklan mengenai MBG pada akun media sosial Sudaryono dan mempertanyakan tujuan serta sasaran publisitas tersebut.
Berdasarkan data Meta Ad Library yang dikutip dalam pemberitaan tersebut, nilai belanja iklan yang dikaitkan dengan akun Sudaryono disebut mencapai sekitar Rp1,8 miliar.
Angka ini tentu bukan sekadar biaya membuat unggahan media sosial biasa.
Ini adalah belanja untuk memastikan pesan tertentu menjangkau lebih banyak orang melalui mekanisme iklan digital.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Ketika program publik mulai sibuk menjual citra
Iklan pada dasarnya bukan sesuatu yang haram bagi pemerintah. Negara membutuhkan komunikasi publik.
Masyarakat perlu mengetahui program apa yang sedang berjalan, siapa penerimanya, bagaimana mekanismenya, dan ke mana harus mengadu jika terjadi persoalan.
Tetapi komunikasi publik berbeda dengan promosi citra.
Ketika uang digunakan untuk memperluas pesan keberhasilan sebuah program, publik berhak bertanya: informasi apa yang sebenarnya sedang dibeli?
Apakah masyarakat sedang diberi informasi mengenai mekanisme MBG? Ataukah yang sedang diperkuat adalah persepsi bahwa program tersebut berhasil?
Pertanyaan itu semakin relevan ketika pada saat bersamaan MBG masih menghadapi sorotan terkait pelaksanaan di lapangan, termasuk laporan dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan di sejumlah daerah.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah seharusnya tidak hanya memperbanyak konten yang menunjukkan makanan dibagikan kepada siswa.
Publik juga membutuhkan informasi tentang standar keamanan pangan, evaluasi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mekanisme pengawasan, penanganan keluhan, serta tindakan korektif apabila terjadi masalah.
Sebab sebuah program publik tidak menjadi lebih baik hanya karena lebih sering muncul di layar ponsel.
Ia menjadi lebih dipercaya ketika hasilnya bisa diperiksa.
Meta sendiri menyediakan Ad Library yang memungkinkan publik menelusuri iklan dan, untuk kategori tertentu, melihat informasi mengenai pengiklan serta belanja iklan.
