“Masalahnya, masalah kebakaran hutan, kita tiap tahun kita mengalami kebakaran hutan. Ada satu fenomena ya, bahwa tetangga-tetangga kita juga punya hutan. Tapi mungkin mereka tidak punya gambut sebesar kita, mungkin ya. Kalian yang lebih tahu lah, kalian yang mengerti makanya saya mengundang saudara-saudara,” sambungnya.
Para pakar yang hadir antara lain Bagus Muljadi dari Nottingham University, Azwar Maas dari UGM, Zakaria Amsari dari Universitas Tanjungpura, Haris Gunawan dari Universitas Riau, Darmae Nasir dan Henrik Segah dari Universitas Palangka Raya, serta Yulianto S Nugroho dari UI.
Selain meminta solusi pencegahan, Prabowo menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menangani karhutla dan kawasan gambut.
Pemerintah membutuhkan masukan mengenai langkah antisipasi sebelum kebakaran terjadi.
Prabowo juga menyampaikan penghargaan terhadap peran para ahli dalam memberikan masukan berdasarkan keilmuan dan pengalaman masing-masing.
“Saya paling hormat sama pakar, enggak bisa apapun saya, kenapa saya berhasil sebagai perwira karena saya selalu cari pakar,” katanya.
Selain nama-nama tersebut, pertemuan juga dihadiri Asmari Saad dari Universitas Jambi, Puji Lestari dan Indratmo Soekarno dari ITB, Made Hesti Lestari dari BRIN, Ahmad Kurnain dari Universitas Lambung Mangkurat, Bambang Kun Cahyono dari UGM, Sigit Sutikno dari Universitas Riau, Ati Dwi Nurhayati dari IPB University, Muhammad Agung Santoso dari UI, dan Elham Sumarga dari ITB.
Pertemuan tersebut membahas pencegahan karhutla, khususnya di lahan gambut, sekaligus kemungkinan pemanfaatan gambut secara produktif.[dit]
