Meski menghentikan sementara kegiatan di lapangan, para relawan menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti ancaman kebakaran telah berakhir. Mereka meminta pemerintah segera mengambil tindakan konkret agar pengendalian api dapat kembali berjalan dengan dukungan peralatan dan strategi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Salah satu tuntutan utama relawan adalah pengerahan pemadaman dari udara atau water bombing. Metode ini dinilai diperlukan untuk menjangkau titik api di zona inti kawasan hutan, terutama lokasi yang sulit ditangani melalui pemadaman langsung oleh personel di darat.
“Kami minta cuma water bombing untuk membantu memadamkan api yang berada di zona inti,” kata Moncos.
Ia menegaskan bahwa para relawan telah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kemampuan mereka memiliki batas. Karena itu, keterlibatan pemerintah melalui dukungan pemadaman udara dinilai sangat dibutuhkan untuk mempercepat penanganan kebakaran.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin sampai di batas kemampuan kami. Makanya kami memohon pemerintah segera mendatangkan water bombing,” katanya.
Moncos juga menyebut luas kawasan terdampak karhutla diperkirakan mencapai sekitar 54 ribu hektare. Namun, angka tersebut belum dapat dipastikan karena masih berupa perkiraan.
“Informasi saya kurang lebih 54 ribu hektare, bisa kurang dan bisa lebih, karena itu cuma perkiraan saja,” jelas Moncos.[dit]
