Selisih penambahan sekitar 336 korban per bulan dibandingkan awal tahun memperlihatkan dengan jelas bahwa beban keselamatan MBG masih di luar kendali.
Kritik tajam ini menjadi semakin mendesak jika mengacu pada pengakuan Sudaryono sendiri, yang menyatakan bahwa sekitar 80 persen kasus keracunan MBG berakar dari pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP), khususnya pada fase penyimpanan dan penyajian makanan.
Pernyataan ini justru menjadi bumerang. Jika pelanggaran SOP telah dipetakan secara akurat sebagai sumber utama malapetaka, BGN dituntut untuk menjelaskan mengapa sistem pengawasan di lapangan begitu rapuh sehingga gagal mencegah makanan berisiko masuk ke perut anak-anak.
Mengetahui akar masalah tanpa dibarengi pencegahan yang efektif adalah sebuah kelalaian struktural.
Memang benar bahwa angka 8.385 adalah akumulasi dari laporan orang yang terdampak, termasuk mereka yang baru menunjukkan gejala. Data antarperiode yang belum sepenuhnya seragam serta belum adanya instrumen pengukur risiko per porsi membuat angka ini tidak serta-merta menuding Sudaryono sebagai penyebab tunggal tiap kasus.
Namun, segala keterbatasan teknis tersebut sama sekali tidak mengubah kesimpulan evaluasi yang paling dasar bagi publik. Rata-rata jumlah korban tidak mengalami penurunan, melainkan terus meningkat selama masa kepemimpinannya.
Realitas di lapangan berbicara lebih keras daripada sekadar janji perbaikan. Kepala BGN boleh berganti, namun korban nyatanya tetap bertambah. Sampai detik ini, Sudaryono gagal membuktikan bahwa kepemimpinannya mampu membuat program MBG menjadi lebih aman bagi masyarakat.
Oleh: HAMDI PUTRA
(Forum Sipil Bersuara/FORSIBER)
