Opini  

Amerika Serikat Telah Kalah

Ir. HAIDAR ALWI.

Oleh: Ir. R Haidar Alwi, MT. (Pemikir Bangsa/dewan Pembina Ikatan Keluarga Alumni ITB)

DALAM perang modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki rudal paling presisi atau jet tempur paling canggih. Terkadang kemenangan ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih sederhana—energi.

Dalam konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, justru minyaklah yang menjadi faktor penentu. Dan dalam perang ini, Amerika Serikat sesungguhnya telah kalah.

Bukan karena kekuatan militer Iran mampu menandingi Amerika secara konvensional. Bukan pula karena rudal balistik atau drone Iran menghancurkan kekuatan militer Washington. Amerika kalah karena Iran memiliki kemampuan untuk mengguncang sistem energi dunia.

Selat Hormuz adalah kuncinya.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari, menjadikannya salah satu chokepoint energi paling vital di planet ini.

Ketika konflik dengan Amerika dan sekutunya meletus pada akhir Februari 2026, Iran segera mengubah selat tersebut menjadi senjata strategis.

Hasilnya langsung terasa. Lalu lintas kapal tanker melalui selat itu anjlok hingga sekitar 97 persen, praktis menghentikan aliran energi dari Teluk Persia ke pasar global.

Dunia langsung panik.

Harga minyak melonjak tajam hingga mendekati US$120 per barel, sementara pasar global bergejolak karena ancaman krisis energi baru. Infrastruktur energi di kawasan Teluk juga mulai terganggu—dari terminal LNG Qatar hingga fasilitas minyak di Arab Saudi dan Irak.

Masalahnya, dunia modern tidak bisa hidup tanpa energi.

Setiap lonjakan harga minyak langsung menjalar ke inflasi global. Biaya transportasi naik. Harga pangan naik. Industri terguncang. Risiko resesi global meningkat. Dengan kata lain, perang yang terlalu lama di Teluk Persia berpotensi memicu krisis ekonomi dunia.

Di titik inilah Iran memahami keunggulan strategisnya.