Opini  

Catatan untuk Ujian Doktor Filsafat Yusril Ihza Mahendra

BANGSA ini lahir dari kegelisahan dan gerakan politisi dan negarawan intelektual, bukan politisi yang hanya bisa jingkrak-jingkrak di panggung. Politisi pemikir kini sudah hampir punah dan digantikan oleh demokrasi prosedural berdasarkan popularitas.

Konsekwensinya memang tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang mempunyai kualitas pemikiran seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, maupun Natsir. Yang terakhir ini dikaji dalam disertasi Yusril Ihza Mahendra.

Yusril mengagetkan karena statusnya sebagai guru besar UI kembali kuliah filsafat dan hari kamis ini ujian terbuka yang dihadiri banyak sahabatnya, baik yang duduk di pemerintahan maupun sahabat-sahabatnya di masa muda dahulu.

Saya tidak diundang mungkin dia lupa, namun ketika saya tahu ada ujian terbuka ini saya kirim pesan WA untuk mendapatkan undangan tersebut.

Yusril langsung membalasnya dan mengirim undangan, baik fisik maupun lewat WA. Judul disertasinya menarik: “Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang
Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial”

Ini adalah catatan saya atas pemikiran politisi bernama YusrilIhza Mahendra, yang statusnya sudah sebagai guru besar, tetapi masih menimba ilmu kembali dalam bidang filsafat.

Apa yang ingin saya sampaikan? Yusril adalah tokoh gerakan sejak usia muda sampai detik ini. Kiprahnya selalu hadir dalam politik sejak reformasi sampai saat ini. Bahkan pada masa reformasi sempat menjadi bakal calon presiden.

Tetapi wajah intelektualitasnya tetap hidup, setara dengan tokoh-tokoh politik di masa kemerdekaan. Disertasi ini adalah bukti “kemaruknya” terhadap ilmu. Inilah yanag ingin saya angkat karena pemimpin politik pada saat ini hampir tuna pemikiran karena memang sistemnya tidak memerlukan kecerdasan dalam memimpoin tetapi popularitas.

Kita masih sempat memiliki tokoh-tokoh pemikir di masa reformasi, tetapi sangat minoritas dan marjinal, seperti SBY, Agus Widjoyo (tokoh militer), Amien Rais, dan Yusril sendiri, yang dalam usia tidak muda lagi tetap belajar mengais ilmu dan mengasah pemikirannya.

Seperti dikatakan sendiri oleh Yusril, disertasinya merupakan bentuk kegelisahan dirinya tentang pemikiran kenegaraan dilihat dari aspek filsafat.