Sementara itu, anggota Ombudsman Republik Indonesia Dadan S. Suharmawijaya mengungkapkan bahwa mengejar efektivitas dan efisiensi dalam layanan publik melalui digitalisasi tidak boleh mengabaikan aspek keamanan.
Salah satu pelajaran penting yang diambil dari insiden kebocoran data di Pusat Data Nasional (PDN) beberapa waktu lalu adalah bahwa keamanan digital harus menjadi prioritas dalam setiap langkah transformasi.
“Untuk bisa lebih efektif efisien semua itu harus terintegrasi, terpadu tetapi poinnya ketika terintegrasi, terpadu sasaran percepatan bisa dicapai, tetapi ketika keamanan tidak terjamin ya bobol satu bobol semua, kira-kira bahasanya begitu,” ujarnya.
Hal serupa juga diungkapkan, Lektor Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka Prabawa Eka Soesanta bahwa peretas atau hacker dapat dengan cepat membobol sistem yang tidak memiliki pertahanan yang kuat, hanya dalam hitungan menit.
Untuk itu, dia menekankan aspek keamanan dalam transformasi digitalisasi menjadi sangat penting.
“Saya lebih cenderung, seperti yang dikatakan oleh Pak Dadan tadi, jangan disatukan (layanan publik). Kita punya pengalaman menarik di Pusat Data Nasional. Kalau sistem keamanan kita sudah sangat kuat, silakan. Tetapi kalau masih seperti sekarang, kita harus waspada,” pungkasnya.
