“Kami menyambut positif Halal Kultur karena selaras dengan concern kami dalam mewujudkan ekosistem produk halal di Indonesia. Kami optimis gelaran ini dapat melahirkan talenta-talenta muslim baru dalam dunia usaha di masa mendatang.” tutur Diana Dewi.
Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar kedua di dunia setelah Pakistan, Indonesia seharusnya menjadi produsen utama dalam perkembangan industri halal di dunia. Namun sebaliknya, Indonesia masih mengalami ketergantungan dengan produk halal luar negeri. Bank Indonesia menyatakan, Indonesia terutama Jakarta merupakan importir makanan halal terbesar ke-4 di dunia dan merupakan pasar bagi industri obat, kosmetik halal dan fashion syariah global.
“Jakarta memiliki potensi industri halal yang besar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Melalui Halal Kultur, kami berkomitmen mendukung para pelaku usaha halal Jakarta untuk unjuk gigi sekaligus mendorong Jakarta untuk tak hanya menjadi pangsa pasar saja, namun juga diproyeksikan sebagai pemain utama industri halal dunia.” jelas Diana Dewi.
Diana Dewi kemudian menambahkan bahwa industrialisasi produk halal dapat menjadi salah satu solusi dalam mengantarkan Jakarta sebagai pusat industri halal dunia.
“Untuk itu, Kadin DK Jakarta bersinergi dengan berbagai pemangku kebijakan untuk percepatan pertumbuhan ekosistem industri halal di Jakarta,” tandasnya.
Sejumlah komunitas yang meramaikan HaKa diantaranya HIRO, The Rabbanians, Jejak Sahabat, Muhajir Project Arabian Kitchen Part of ABUNAWAS dan Tahseel. Agung optimis keterlibatan komunitas dakwah muda bisa menarik perhatian lebih dari 25 pengunjung.
Untuk pengunjung, bekerja sama dengan Thoifah Trans, disediakan layanan free shuttle terminal intermoda ke lokasi selama pemeran berlangsung.
Harga tiket masuk regular HaKa dikenakan sebesar Rp 30.000. Ingin lebih murah bisa memesan via online sebesar Rp 25.000/hari. Tiket gratis diberikan juga untuk anggota TNI/POLRI, lansia di atas 65 tahun dan anak usia dibawah 3 tahun.[zul]
