Pada 1965, nilai portofolio saham Vatikan di Bursa Efek Italia mencapai US$1,6 miliar, setara dengan 15% kapitalisasi pasar.
Keuntungan investasi ini bebas pajak dan terus tumbuh, hingga akhirnya membiayai berbagai amal sosial: lebih dari 1 juta anak dibantu, jutaan orang miskin diberi makan, serta donasi kemanusiaan lainnya.
Sumber pendapatan lain Vatikan berasal dari donasi umat, pariwisata, dan retribusi museum.
Meski bergelimang harta, Paus Fransiskus dikenal hidup sederhana. Dalam lawatan ke Indonesia tahun lalu, ia memilih pesawat komersial dan mobil biasa, menegaskan bahwa kesederhanaan menjadi nilai utama kepemimpinannya.
Kematian Paus Fransiskus sekaligus membuka refleksi akan masa depan Vatikan: bagaimana pewaris takhta Suci akan melanjutkan keseimbangan antara kekayaan dan panggilan pelayanan.[dit]
