Melalui pabrik pengolahan dan branding, petani mendapat margin lebih besar, sementara produk Indonesia semakin kompetitif.
Amran mengingatkan krisis pangan yang melanda 58 negara dapat memicu konflik sosial dan politik. Ia merujuk laporan USDA yang memperkirakan produksi beras Indonesia mencapai 34,6 juta ton pada 2025—melampaui target 32 juta ton. Untuk mengantisipasi volatilitas pasokan, program seed improvement, irigasi presisi, dan dukungan keuangan mikro bagi petani digalakkan.
Program investasi ini melibatkan pengembangan cold storage, agroindustri, dan korporasi petani. Kementan juga mendorong integrasi rantai pasok lewat digitalisasi dan kemitraan BUMN–swasta. “Kalau kebijakan bermasalah, maka negara juga akan bermasalah,” tegas Amran, menegaskan sinergi pemerintah dan swasta menjadi penentu sukses jangka panjang.[dit]
