“Gambir punya potensi luar biasa. Bahan ini bisa diolah menjadi tinta pemilu, campuran sirih, hingga bahan dasar sampo. Kami ingin semua bahan baku ekspor, termasuk CPO, diolah terlebih dahulu di dalam negeri,” tutur Amran.
Pemerintah mengoordinasikan pelaksanaan hilirisasi dengan Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Dua kementerian ini menyiapkan infrastruktur, teknologi, dan regulasi agar industri pertanian semakin kompetitif.
Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya industrialisasi pertanian. Melalui hilirisasi, pemerintah berupaya membangun sistem produksi yang berkelanjutan dan berorientasi ekspor.
Dengan potensi nilai tambah hingga Rp2.400 triliun per tahun, hilirisasi kelapa berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi nasional. Program ini menunjukkan tekad pemerintah untuk mengubah sektor pertanian dari penyedia bahan mentah menjadi industri bernilai tinggi.
“Kami tidak ingin hasil bumi Indonesia dikirim mentah ke luar negeri. Semua harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya kembali ke rakyat,” tegas Amran.[zul]
