Cerpen: Sunyi Yang Pulang Bersama Usia

Malamnya, aku kembali membuka foto itu. Entah mengapa, aku terus menyimpannya. Mungkin karena tulisan itu terasa jujur, tanpa hiasan. Aku membacanya berulang ulang, hingga kata katanya seperti berbicara langsung kepadaku. Tentang sepi yang tak selalu hilang meski rumah penuh suara.

Listrik padam malam itu. Rumah tenggelam dalam gelap. Anak dan cucuku tertidur lebih awal, lelah oleh hari. Aku duduk sendiri di teras, ditemani lampu minyak kecil yang nyalanya goyah. Angin malam membawa bau dedaunan kering. Aku merogoh saku, membuka ponsel, dan kembali menatap foto itu.

Kali ini aku memperhatikannya lebih saksama. Wajah lelaki tua itu. Keriput di keningnya. Bekas luka kecil di dagu. Jam tua di pergelangan tangan kirinya. Napasku tertahan. Jam itu persis jam yang pernah kupakai bertahun lalu. Luka itu juga, bekas jatuh dari sepeda motor saat masih bekerja.

Dadaku berdegup kencang. Ingatan yang lama terkubur mendadak muncul. Tahun tahun ketika aku tinggal sendirian di rumah ini. Anak anakku merantau. Hari hari kulalui dengan memasak seadanya, makan tanpa teman, dan duduk menunggu sore tanpa siapa pun datang. Foto itu diambil pada masa itu. Tulisan itu kutulis sendiri, sebagai penghiburan yang setengah putus asa, lalu kukirim tanpa nama.

Aku tertawa pelan dalam gelap. Kini aku hidup bersama anak cucu, tetapi sunyi itu tak pernah benar benar pergi. Ia hanya berubah rupa. Dulu sunyi karena sendiri. Kini sunyi karena tak selalu bisa mengungkapkan apa yang kurasa.

Aku mematikan ponsel dan meniup lampu minyak. Dalam gelap, aku akhirnya mengerti. Menjadi tua bukan tentang ramai atau sepi. Sunyi akan selalu pulang, cepat atau lambat, dan kita hanya bisa belajar menerimanya sebagai bagian dari usia yang terus berjalan.

Exit mobile version