Di setiap lapisan langit, Nabi Muhammad SAW disambut oleh para nabi terdahulu, yang menunjukkan kesinambungan risalah tauhid:
- Langit Pertama: Bertemu Nabi Adam AS, bapak seluruh manusia.
- Langit Kedua: Bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS.
- Langit Ketiga: Bertemu Nabi Yusuf AS yang dianugerahi separuh ketampanan dunia.
- Langit Keempat: Bertemu Nabi Idris AS.
- Langit Kelima: Bertemu Nabi Harun AS.
- Langit Keenam: Bertemu Nabi Musa AS. Di sini terjadi momen emosional saat Nabi Musa menangis karena melihat umat Nabi Muhammad akan lebih banyak yang masuk surga dibanding umatnya sendiri.
- Langit Ketujuh: Bertemu Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi, yang sedang bersandar di Baitul Makmur.
Puncak dari perjalanan ini adalah menuju Sidratul Muntaha, sebuah tempat di mana pengetahuan makhluk berakhir.
Di sana, Nabi disuguhi tiga jenis minuman: arak, susu, dan madu. Ketika Nabi memilih susu, Malaikat Jibril menyatakan bahwa pilihan tersebut adalah simbol dari fitrah (kemurnian) yang akan menjadi ciri khas Nabi dan umatnya hingga akhir zaman.
Hadiah Shalat Lima Waktu bagi Umat Islam
Salah satu inti paling krusial dari peristiwa Mi’raj adalah pertemuan langsung antara Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT di Baitul Makmur.
Dalam pertemuan yang maha agung tersebut, Allah memberikan perintah shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap harinya. Nabi Muhammad menerima perintah tersebut dengan penuh ketaatan.
Namun, saat turun dan bertemu kembali dengan Nabi Musa AS di langit keenam, sebuah saran bijak diberikan.
Nabi Musa, berdasarkan pengalamannya memimpin Bani Israil, mengingatkan bahwa umat Muhammad tidak akan sanggup memikul beban shalat lima puluh kali sehari. Atas saran tersebut, Nabi Muhammad kembali menghadap Allah berkali-kali untuk memohon keringanan (takhfif).
Proses negosiasi spiritual ini terjadi berulang kali hingga akhirnya kewajiban shalat ditetapkan menjadi lima waktu dalam sehari. Meski jumlahnya berkurang, pahala yang dijanjikan tetap setara dengan lima puluh kali bagi mereka yang mengerjakannya dengan ikhlas.
Ketika fajar menyingsing di Makkah, Nabi menceritakan pengalaman luar biasa ini kepada kaum Quraisy. Reaksi masyarakat saat itu terbelah. Mayoritas kaum kafir Quraisy mengejek dan menganggapnya sebagai dongeng atau sihir, bahkan beberapa orang yang imannya lemah memilih untuk murtad. Namun, di sinilah muncul keteguhan iman Abu Bakar.
Tanpa keraguan sedikit pun, beliau membenarkan ucapan Nabi, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu adalah kebenaran.” Karena sikapnya yang langsung membenarkan tanpa tapi, beliau diberi gelar As-Shiddiq (yang sangat jujur/membenarkan).
Empat Pelajaran Inti dari Peristiwa Isra’ Mi’raj untuk Kehidupan Modern
Berdasarkan analisis para ulama, termasuk Ali Muhammad Shalabi dan Musthofa As-Siba’i, terdapat pelajaran fundamental yang bisa kita petik:
- Penghibur Hati (Tasliyah) bagi Pejuang Agama:
Isra’ Mi’raj terjadi pada Amul Huzni (Tahun Kesedihan), tak lama setelah Nabi kehilangan istri tercinta, Sayyidah Khadijah, dan paman pelindungnya, Abu Thalib. Allah ingin menunjukkan bahwa meski dukungan manusia hilang, dukungan Allah tetap abadi. Ini adalah pesan bagi setiap pejuang kebenaran bahwa setelah kesulitan pasti ada kemuliaan.
- Shalat sebagai Mi’raj-nya Orang Beriman:
Jika Nabi melakukan Mi’raj secara fisik, maka umatnya melakukan “Mi’raj spiritual” melalui shalat. Shalat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Khalik. Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah, sehingga ia memiliki benteng moral untuk menjauhi kemungkaran dan perilaku buruk.
- Integrasi Agama, Sains, dan Teknologi:
Peristiwa ini adalah perjalanan luar angkasa pertama dalam sejarah manusia. Hal ini mengisyaratkan bahwa umat Islam tidak boleh hanya terpaku pada aspek ritual, tetapi juga harus menguasai sains dan teknologi. Keberhasilan menembus cakrawala langit adalah simbol kemajuan peradaban yang harus dikejar oleh umat Islam agar tidak tertinggal oleh bangsa lain.
- Urgensi Pembebasan Masjidil Aqsha:
Disebutnya Masjidil Aqsha dalam rangkaian Isra’ bukan tanpa alasan. Ini menegaskan bahwa Palestina dan masjid di dalamnya adalah tanah suci umat Islam yang harus dijaga. Membela hak-hak rakyat Palestina dan menjaga kesucian Masjidil Aqsha adalah bagian dari tanggung jawab iman, baik melalui dukungan politik, bantuan kemanusiaan, maupun doa.
Dengan memahami esensi Isra’ Mi’raj, kita diharapkan tidak hanya memperingatinya sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadikannya momentum untuk memperbaiki kualitas shalat, meningkatkan literasi sains, serta memperkuat solidaritas terhadap sesama muslim, terutama yang berada di tanah para nabi, Palestina.[dit]
