Kurang Bedebah Apa Lagi Negeri Ini, Wakil Tuhan pun Ditangkap

"Ironi di balik palu sidang. Di saat ratusan ribu guru honorer bertahan hidup dengan gaji minim, oknum 'Wakil Tuhan' justru tertangkap tangan menimbun ratusan juta rupiah uang suap"
Ironi di balik palu sidang. Di saat ratusan ribu guru honorer bertahan hidup dengan gaji minim, oknum 'Wakil Tuhan' justru tertangkap tangan menimbun ratusan juta rupiah uang suap. (Dok. Instagram @pn_depok

FAKTANASIONAL.NET – Kalian boleh marah kali ini. Koptagul tumpah, biarkan. Ini sudah sangat parah. Wakik Tuhan alias hakim digelandang KPK ketahuan disuap 850 juta.

Kurang bedebah apa lagi negeri ini saya, negeri ente, dan negeri kita, wak! Bukan konoha.

Pian bayangkan seekor tikus got raksasa, tubuhnya licin oleh lumpur selokan, kumisnya basah air comberan, matanya kecil tapi rakus, hidup nyaman di gorong-gorong kota yang gelap, pengap, dan penuh bangkai moral. Tikus ini bukan sembarang tikus.

Ia mengenakan toga hitam sebagai kamuflase, berbicara tentang keadilan dengan mulut yang bau bangkai, dan mengetukkan palu hukum seperti tikus mengetuk pipa, bukan untuk memperbaiki, tapi mencari celah kebocoran uang.

Baca Juga: Tempo Menang, PN Jaksel Tegaskan Pengadilan Tak Berwenang Tangani Sengketa Pers

Nama tikus itu, Dr. Bambang Setyawan, S.H., M.H. Wakil Ketua Pengadilan Negeri Depok. Di siang hari, ia tampil sebagai makhluk terhormat. Penuh gelar, penuh jabatan, penuh ceramah etika.

Tapi begitu malam turun dan gorong-gorong dibuka, naluri aslinya bangkit. Tikus memang begitu, makannya diam-diam, larinya cepat, dan rakusnya tak pernah kenyang.

Tikus got tidak peduli kota banjir atau rakyat kelaparan. Anak SD bundir di Ngada NTT. Ia tak ada 375 ribu guru honorer yang digaji 400 ribu per bulan.

Ia tak hirau 7,35 juta pengangguran. Selama ada sisa, bangkai, dan uang basah, ia akan menggigit. Benar saja, 5 Februari 2026, KPK menyergap sarang tikus itu.

Dari balik lipatan toga dan dinding kekuasaan, menggelinding Rp 850 juta. Uang yang baunya sama seperti got, amis, busuk, dan menular.

Tikus itu tertangkap basah, moncongnya masih belepotan suap, ekornya menggeliat panik, tapi sudah terlambat. Lampu sorot menyala. Gorong-gorong terbuka.

Semua orang melihat, ini bukan dewa hukum, ini hama negara.

Exit mobile version