FAKTANASIONAL.NET – Eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran mulai memberikan hantaman hebat pada sektor ekonomi.
Kementerian Keuangan Israel melaporkan bahwa negara tersebut diperkirakan menanggung kerugian ekonomi mencapai 9,4 miliar shekel atau setara dengan Rp49,5 triliun setiap pekannya akibat perang udara yang tengah berlangsung.
Lonjakan kerugian ini merupakan dampak langsung dari kebijakan keamanan ketat yang melumpuhkan aktivitas domestik. Saat ini, otoritas keamanan menerapkan status darurat merah yang memaksa sebagian besar roda ekonomi berhenti berputar.
Dampak Status Darurat “Level Merah”
Menurut pernyataan resmi Kementerian Keuangan Israel, pembatasan ketat di bawah Komando Front Dalam Negeri menjadi pemicu utama besarnya angka kerugian tersebut.
Penutupan akses pendidikan dan mobilisasi militer besar-besaran membuat produktivitas nasional merosot tajam.
Baca Juga: Langkah Berani Presiden Prabowo: Kumpulkan Tokoh Bangsa Bahas Dampak Konflik Iran
“Di bawah pembatasan level merah oleh Komando Front Dalam Negeri yang membatasi perjalanan ke tempat kerja, menutup sekolah, dan memobilisasi pasukan cadangan, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 9,4 miliar shekel per pekan,” tulis kementerian tersebut sebagaimana dikutip dari Daily Sabah, Jumat (6/3/2026).
Menyikapi situasi yang kian mengkhawatirkan, Kementerian Keuangan mendesak agar status darurat segera diturunkan ke level orange.
Langkah ini diharapkan dapat memberi ruang bagi warga untuk kembali bekerja dengan aturan yang lebih longgar. Jika transisi ini dilakukan, kerugian diprediksi dapat ditekan hingga menjadi 4,3 miliar shekel per pekan.
