“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” ungkap Amran.
Strategi lain yang diperkuat adalah optimalisasi lahan rawa yang telah direhabilitasi untuk menjaga ritme produksi saat musim kering melanda wilayah lain.
Penurunan Harga Pupuk dan Surplus Komoditas
Kabar positif juga datang dari sektor input pertanian, di mana harga pupuk tercatat mengalami penurunan hingga 20 persen.
Amran menilai kondisi ini menjadi stimulus penting bagi petani untuk meningkatkan intensitas tanam.
“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20 persen. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam,” tuturnya.
Selain beras, komoditas protein seperti ayam dan telur juga dilaporkan berada dalam kondisi surplus.
Andi menegaskan bahwa sektor pertanian Indonesia saat ini cukup resilien dalam menghadapi dinamika geopolitik global maupun ancaman El Nino.
