Opini  

Air Keras, Ancaman Presiden, Dan Bayang-Bayang Kasus Munir

Majelis hakim dijadwalkan membacakan putusan akhir pada hari ini../Dok. MK

FAKTANASIONAL.NET – Kamis malam seorang aktivis KontraS disiram air keras. Jumat sore Presiden berbicara tentang pengkritik yang akan “ditertibkan”, bahkan sambil menyebut unsur intelijen.

Peristiwa ini mengingatkan publik pada satu trauma lama dalam sejarah demokrasi Indonesia: pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004.

Tiga peristiwa yang tampak terpisah ini sesungguhnya memiliki satu benang merah yang kuat: hubungan antara kekuasaan, kritik, dan keamanan masyarakat sipil.

Kamis malam, aktivis Andrie Yunus dari KontraS menjadi korban penyiraman air keras. Serangan terhadap aktivis bukan sekadar tindak kriminal biasa.

Dalam banyak kasus politik di berbagai negara, serangan semacam ini sering berfungsi sebagai peringatan kepada orang-orang yang terlalu vokal terhadap kekuasaan.

Pesannya sederhana tetapi menakutkan—bahwa kritik dapat berujung pada risiko keselamatan.

Belum reda kekhawatiran atas serangan tersebut, publik kemudian mendengar pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyentil para pengamat yang dianggap tidak suka melihat pemerintah berhasil. Presiden bahkan menyatakan para pengkritik itu akan “ditertibkan” dan menyinggung peran intelijen.

Dalam politik demokratis, pernyataan semacam ini bukan sekadar retorika. Ucapan seorang presiden memiliki daya pengaruh yang sangat besar. Dalam teori komunikasi politik, pernyataan elite negara dapat menjadi sinyal bagi aparat atau kelompok tertentu tentang bagaimana kekuasaan memandang kritik.

Masalahnya, ketika kritik diposisikan sebagai sesuatu yang perlu “ditertibkan”, maka ruang demokrasi secara perlahan berubah. Kritik tidak lagi dipandang sebagai bagian dari kontrol publik terhadap kekuasaan, tetapi sebagai gangguan terhadap stabilitas.

Situasi ini menjadi semakin sensitif ketika publik mengingat sejarah yang belum sepenuhnya selesai. Kasus pembunuhan Munir.

Munir adalah simbol keberanian masyarakat sipil dalam melawan pelanggaran HAM. Ia meninggal karena diracun dalam penerbangan menuju Amsterdam.

Proses hukum memang pernah berjalan, tetapi hingga hari ini banyak pihak menilai dalang intelektual di balik pembunuhan tersebut belum sepenuhnya terungkap.

Berbagai investigasi dan fakta persidangan pada masa itu bahkan menyeret nama-nama yang terkait dengan jaringan intelijen negara.

Exit mobile version