Eskalasi Timur Tengah Ancam Ketahanan Pangan Global, Indonesia Kejar Swasembada Mutlak

/Dok. Kementan

“Dulu petani sudah mau tanam, pupuk belum tiba. Sekarang distribusi langsung, cepat, dan tepat sasaran,” tegas Amran.

Modernisasi dan Optimisme Swasembada

Di sisi teknis, pemerintah menggenjot mekanisasi pertanian untuk mengejar efisiensi.

Penggunaan teknologi diklaim mampu memangkas biaya produksi hingga 50 persen dan mempercepat masa tanam-panen.

“Modernisasi pertanian membuat biaya produksi turun, panen lebih cepat, dan petani lebih sejahtera. Ini yang sedang kita dorong di seluruh Indonesia,” kata Amran.

Keyakinan pemerintah juga didorong oleh indikator ekonomi petani. Saat ini, Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai angka 125, yang merupakan rekor tertinggi.

Dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di angka Rp6.500 per kilogram, terjadi perputaran ekonomi sekitar Rp132 triliun di tingkat petani.

“Kalau petani untung, mereka akan semangat menanam. Kalau petani semangat, produksi pasti naik. Itu kunci swasembada,” tuturnya.

Menuju Lumbung Pangan Dunia

Data saat ini menunjukkan produksi beras nasional surplus mencapai 34,7 juta ton, naik 13 persen dari tahun sebelumnya.

Pemerintah juga mulai membuka lumbung pangan baru melalui optimalisasi lahan rawa, salah satunya revitalisasi ratusan ribu hektare lahan di Kalimantan dengan sistem irigasi modern.

Meski ancaman krisis menghantui dunia, Amran optimistis kekuatan sumber daya alam dan manusia Indonesia mampu menjawab tantangan tersebut.

“Kita tidak boleh takut krisis pangan global. Justru ini momentum Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri pangan dan menjadi lumbung pangan dunia, kita putar dunia,” tutupnya.

Exit mobile version