FAKTANASIONAL.NET – Kementerian Pertanian (Kementan) merespons cepat isu mengenai dugaan kekeringan yang menimpa ribuan hektare sawah di Daerah Irigasi (DI) Bena, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
Peninjauan lapangan langsung dilakukan oleh Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) guna memastikan ketersediaan air pasokan irigasi tetap aman menyongsong Musim Tanam II (MT2).
Langkah proaktif ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang meminta seluruh jajaran melakukan mitigasi sejak dini guna menjaga kestabilan produksi pangan nasional.
“Mitigasi harus dilakukan sebelum terjadi kekeringan. Jangan menunggu sawah kering baru bergerak. Semua sumber daya harus digerakkan agar air tersedia dan produksi pangan tetap aman,” tegas Mentan Amran.
Pengecekan di lokasi menunjukkan bahwa kabar kekeringan tersebut tidak benar. Lahan yang diberitakan terdampak merupakan area yang baru saja selesai dipanen.
Kendala utama di lapangan hanyalah penumpukan sedimentasi pada saluran irigasi primer dan sekunder yang sempat menghambat debit air.
Guna mengantisipasi dampak kekeringan di Kabupaten Timor Tengah Selatan pada Tahun Anggaran 2026, Kementan menyalurkan alokasi bantuan melalui Ditjen LIP.
Bantuan tersebut mencakup 10 unit Operasi dan Pemeliharaan (OP) Jaringan Irigasi Tersier, 24 unit Irigasi Perpompaan, 7 unit Irigasi Perpipaan, serta 5 unit Bangunan Konservasi Air.
Dinas Pertanian setempat turut menyiagakan 25 unit brigade pompa yang siap digunakan sewaktu-waktu.
Koordinator Penyuluh BPP Penitik Kecamatan Amanuban Selatan, Yustinus Nahak, mengonfirmasi bahwa aktivitas pertanian di wilayahnya berjalan kondusif.
Angka 3.515 hektare yang beredar di media merupakan total luas layanan DI Bena, bukan area yang mengalami gagal panen.
“Kami di Amanuban Selatan baru selesai panen di akhir Juli, bahkan masih ada sisa pertanaman sekitar 50 hektare yang sedang dipanen. Buktinya, saat ini petani masih memiliki persemaian yang berumur dua minggu dan sudah mulai melakukan pengolahan lahan. Itu artinya kondisi air ini mencukupi,” ujar Yustinus.
Kondisi tersebut diamini oleh Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Oetitus Desa Linamutuh, Godlief Malelak, yang menegaskan kesiapan para petani memulai MT2 pada Agustus ini.
