Dunia Terancam Krisis Pupuk Akibat Konflik Selat Hormuz, Stok Indonesia Dipastikan Aman dan Harga Turun

/Dok. Kementan

“Selat Hormuz ini adalah pintu untuk 30% perdagangan pupuk dunia. Setiap bulan ada sekitar 4 juta ton yang keluar dari sana. Namun kita patut berbangga karena sejak zaman Bapak Presiden Soeharto, Indonesia terus mengembangkan industri pupuk. Sehingga hari ini, meskipun dunia gonjang-ganjing, pupuk Indonesia justru bisa berfungsi sebagai penyelamat ekosistem pangan dunia,” ungkapnya.

Saat ini, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,29 juta ton, jumlah yang sangat mencukupi untuk kebutuhan musim tanam.

“Alhamdulillah stok juga aman, kita memiliki 1,29 juta ton stok, dan pabrik seluruhnya beroperasi dengan baik. Artinya ini akan terus kita pertahankan di level ini, tidak ada masalah,” tegas Rahmad.

Dukungan Transisi Energi dan Stabilitas Ekonomi

Selain pemenuhan kebutuhan pangan, Pupuk Indonesia juga mulai merambah sektor energi dengan rencana pembangunan dua pabrik metanol di Lhokseumawe dan Bontang untuk mendukung transisi energi menuju B50.

Langkah ini diharapkan menekan ketergantungan impor metanol nasional.

Menutup keterangannya, Rahmad menegaskan bahwa subsidi pupuk adalah investasi produksi yang berdampak langsung pada kesejahteraan nasional dan pengendalian inflasi.

“Pupuk adalah critical agro input, input yang sangat penting bagi produktivitas pertanian. Berbeda dengan subsidi konsumtif, subsidi pupuk adalah subsidi produksi. Jika serapan pupuk meningkat, maka sudah pasti akan meningkatkan produktivitas pertanian dan membantu menjaga inflasi,” pungkasnya.

Exit mobile version