Teknologi Diri Dari Michel Foucault: Cara Saya Merebut Kembali Kuasa Atas Jiwa

Teknologi Diri Dari Michel Foucault: Cara Saya Merebut Kembali Kuasa Atas Jiwa/(instagram)

1. Kewaspadaan dan Penulisan (Vigilance and Writing)

Langkah pertama menuju ketenangan mental adalah mengenali dan mengawasi pikiran kita sendiri.

Pikiran yang dibiarkan liar akan mudah disetir oleh kepanikan massa atau tuntutan algoritma. Kita harus senantiasa awas: Apa yang sedang saya rasakan saat ini? Mengapa saya marah melihat berita ini? Mengapa saya merasa tertekan hari ini?

Pengawasan ini menjadi jauh lebih efektif ketika diwujudkan dalam bentuk tulisan (hypomnemata). Menulis untuk diri sendiri. Sebagai penulis, saya terbiasa memproduksi ribuan kata untuk dibaca publik.

Namun, menulis jurnal pribadi adalah hal yang berbeda. Di sini, tidak ada target keyword, tidak ada pembaca yang harus dipuaskan.

Menulis jurnal adalah cara kita mengobjektifikasi pikiran kita sendiri yang kusut, memindahkannya dari benak ke atas kertas (atau layar), dan melihat pola-pola bagaimana kekuasaan orang lain memengaruhi kita.

2. Diam dan Mendengarkan (Silence and Listening)

Dalam budaya masa kini yang serba reaktif—di mana semua orang berlomba-lomba memberikan komentar, mengunggah opini, dan menjadi yang paling pertama merespons isu politik atau tren teknologi terbaru—diam adalah bentuk perlawanan yang radikal.

Foucault mengingatkan bahwa melatih kemampuan untuk mendengarkan secara pasif dan kritis adalah kunci. Ketika kita diam, kita menolak untuk ditelan oleh wacana orang lain. Diam berarti kita mengambil jeda untuk merefleksikan diri, menjaga jarak agar tidak terseret arus emosi kolektif.

Dengan mendengarkan (bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara), kita membuka ruang dialog dan empati, sekaligus menciptakan batasan (otonomi) bahwa:

“Aku adalah aku, dan aku tidak harus bereaksi terhadap segala hal yang kau lemparkan padaku.”

– Michel Foucault.

Kata Ini mengajarkan kita bahwa suka atau tidak nya orang lain dengan apa yang kita lakukan dalam hidup tidak membuat mereka berhak menyetir arah kehidupan kita.

Saat kau tak disukai, harus kau tahu saat itu pulalah kau sedang diperhitungkan, yang berarti kau.

Saat kau disukai tidak pula membuat keangkuhan dalam diri, atau membuat dirimu tunduk, sehingga takut membuat orang yang sudah menyukai mu menjadi tidak suka. Jadilah dirimu apa adanya!

3. Askesis (Tirakat/Latihan Disiplin)

Askesis adalah praktik pendisiplinan tubuh dan jiwa untuk mencapai transformasi diri. Di masa lalu, ini berarti menarik diri dari kenikmatan duniawi untuk mencari kebenaran.

Dalam konteks modern, askesis bisa diterjemahkan sebagai latihan-latihan kecil untuk memerdekakan diri dari ketergantungan pada penilaian eksternal.

Bagi saya, ini bisa berbentuk puasa media sosial di akhir pekan, atau secara khusyuk mendirikan Solat tanpa memikirkan notifikasi ponsel yang menyala di sudut ruangan.

Ini adalah bentuk uzlah (menarik diri) sementara waktu, memusatkan kembali poros kehidupan kita bukan pada tuntutan bos atau ekspektasi netizen, melainkan pada kedamaian internal. Latihan-latihan yang mungkin terasa berat di awal ini pada akhirnya akan menciptakan otonomi diri yang kokoh.

4. Pengakuan dan Pengungkapan Diri (Confession and Self-Disclosure)

Teknologi diri yang terakhir adalah keberanian untuk mengakui kerapuhan dan kesalahan. Kekuasaan sering kali memaksa kita memakai topeng kesempurnaan. Kita dituntut untuk selalu kuat, rasional, dan tanpa cela. Padahal, memendam kelemahan adalah sumber utama dari gangguan kecemasan.

Mengungkapkan diri apa adanya—baik kepada Tuhan dalam doa, kepada profesional (psikolog/psikiater), atau sekadar mengakui pada diri sendiri di dalam jurnal—adalah proses melepaskan beban sejarah kita.

Dengan mengakui “Ya, saya lelah,” atau “Ya, saya merasa gagal di bagian ini,” kita sebenarnya sedang mentransformasi diri kita menjadi lebih baik, sekaligus mendeklarasikan kebebasan bahwa kita berhak untuk menjadi manusiawi.

Merayakan Ketidaknormalan yang Otentik

Menuliskan semua ini, merefleksikan gagasan-gagasan Michel Foucault hingga menyentuh dasar kesadaran saya, membuat malam terasa sedikit lebih ringan.

Foucault tidak pernah mengklaim dirinya sebagai nabi yang membawa kebenaran mutlak. Ia hanya menyebut dirinya sebagai “pembuat jendela” bagi dinding-dinding kokoh yang memenjarakan pikiran kita.

Bagi saya, jendela itu kini terbuka. Ia memperlihatkan pemandangan bahwa banyak dari kecemasan mental yang saya alami bukanlah kelemahan personal, melainkan benturan antara diri saya yang otentik dengan struktur kekuasaan sosial yang terus-menerus mendikte definisi “pantas”.

Jika berada di luar standar mayoritas membuat saya dilabeli “tidak pantas”, maka biarlah. Saya akan merengkuh new normal versi saya sendiri. Saya tidak perlu menghabiskan sisa hidup saya untuk menyenangkan mata Panopticon yang tak berwajah itu.

“Do not ask who I am and do not ask me to remain the same,” tulis Foucault. Jangan tanyakan siapa saya, dan jangan tuntut saya untuk terus menjadi orang yang sama seperti anda.

Kita adalah entitas yang terus mengalir, bertransformasi, dan belajar. Ketenangan sejati tidak datang dari upaya mati-matian untuk menyesuaikan diri dengan cetakan dunia yang bising ini.

Ketenangan datang ketika kita berani menggunakan teknologi diri kita: mengawasi batin kita, berani untuk diam, melatih ketangguhan spiritual, dan jujur pada kerapuhan kita sendiri.

Malam ini, biarlah dunia dengan segala tuntutan beritanya berputar di luar sana. Di dalam sini, melalui tulisan ini, saya mengambil kembali kuasa atas kewarasan saya sendiri.

Salam dari saya Aditya Faqihhurahman dari FAKTANASIONAL.NET

“Soal Pendidikan, Sertifikat gelar mungkin saya tak punya, walapun mungkin bisa saya beli, tapi soal pengalaman kepahitan dan manisnya kehidupan boleh diadu.”

“Duduklah dengan Saya Jika Ingin Mengenal Lebih Jauh, Menyala Kakanda.”

– Aditya Faqihhurahman.

[dit]

Exit mobile version