Kondisi ini diperparah dengan lonjakan harga energi akibat penutupan Selat Hormuz, yang memaksa revisi proyeksi inflasi global naik menjadi 4,4 persen. Krisis ini datang tepat saat dunia sebenarnya mulai menunjukkan ketahanan terhadap kebijakan proteksionis.
Negara-negara dengan ketergantungan energi tinggi seperti di Zona Euro kini berada di bawah tekanan berat. Jika konflik berlarut-larut, IMF memperingatkan skenario terburuk di mana pertumbuhan global bisa merosot hingga angka 2 persen pada 2027.
Di tengah ketidakpastian ini, hanya negara eksportir energi seperti Rusia yang justru berpotensi mendulang keuntungan finansial dari kenaikan harga minyak yang melambung tinggi.[dit]
