Jika AS masih ngotot soal pelucutan nuklir Iran, ngotot soal Uranium, ngotot masih blokade Selat Hormuz, dan tetap ngotot meminta Uranium Iran harus disita, ini akan jadi mimpi AS selamanya, Iran tidak akan menyerah.
IRGC sama sekali tidak memberikan sinyal negosiasi, jikapun negosiasi mau dilanjutkan, IRGC menetapkan syarat kepentingan Iran diatas segalanya. Tidak ada kompromi.
Saat ini AS masih bersikap seperti pemenang, menekan, mengancam, dan terus menerus bersikap arogan. Walaupun kondisi di lapangan sebaliknya. Semakin Trump berkoar koar, semakin terlihat posisinya lemah, dan Iran memahami realitas ini.
Ketua Komisi pertahanan di parlemen Iran misalnya menyebut, semakin Trump banyak bicara semakin Iran tidak peduli, semakin banyak Trump update status media sosial, semakin Iran yakin sebenarnya AS sudah tidak punya peluru.
Baru kali ini AS tidak dihargai oleh lawan, baru kali ini ancaman presiden AS dianggap angin lalu, dan baru kali ini AS dapat lawan yang sama sekali tidak menganggap AS sebagai super power.
Kalau AS mencoba melakukan serangan dan pengeboman lagi ke Iran setelah masa gencatan senjata selesai, maka Iran akan melakukan pengeboman kembali ke Israel, AS, dam semua sekutunya. Plus bab Al Mandeb akan ditutup menyusul Hormuz.
Hotel hotel di Pakistan memang telah disiapkan, pengamanan sudah siap, tapi panitia nya adalah AS, AS yang sangat ingin negosiasi karena mereka yang butuh de eskalasi. Tapi AS terus bersikap tidak tau diri, dia yang butuh tapi dia yang mengancam.
Setelah masa gencatan senjata selesai, tidak ada menghormati hak hak bangsa Iran, atau dunia pilihan bagi Iran, AS menerima syarat Iran dan akan masuk fase baru dengan pertempuran yang lebih brutal dan kondisi global ditepi jurang. AS harus mengubur mimpinya selamanya jika ingin.
TENGKU ZULKIFLI USMAN | Pengamat Geopolitik
