Sehari sebelumnya, hari Rabu bahkan dicatat sebagai hari paling berdarah sejak jeda pertempuran berlaku, di mana serangan udara Israel menewaskan jurnalis Lebanon dari Al-Akhbar, Amal Khalil, beserta beberapa warga sipil lainnya.
Situasi darurat ini bermula dari permusuhan yang kembali memanas sejak 2 Maret lalu, yang nahasnya telah menelan hampir 2.500 korban jiwa.
Pasukan Israel saat ini masih bersikukuh menguasai wilayah selatan Lebanon sejauh 5 hingga 10 kilometer dari perbatasan dengan dalih menciptakan zona penyangga dari ancaman roket musuh.
Di sisi berlawanan, anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, mengajukan tuntutan keras di depan publik. Ia mendesak Israel mematuhi gencatan senjata sepenuhnya dengan menghentikan tembakan dan penghancuran desa tanpa syarat.
Perpanjangan masa damai ini sangat diharapkan oleh pemerintah Lebanon sebagai pijakan awal menuju penarikan penuh pasukan pendudukan dan penetapan garis batas darat yang permanen.[dit]
