Banyak kesaksian di media sosial yang melaporkan betapa kuatnya gelombang kejut ledakan tersebut, bahkan hingga membuat beberapa saksi terpental sejauh beberapa meter, meninggalkan kawah besar menganga di lokasi kejadian.
Pihak berwenang Kolombia mencurigai kuat kelompok pembangkang dari mantan gerilyawan FARC sebagai dalang di balik teror ini. Meski FARC telah dibubarkan pasca perjanjian damai tahun 2016, faksi-faksi sisa yang menolak kesepakatan tersebut masih terus beroperasi secara militer.
Mereka secara aktif mengganggu upaya perundingan damai yang kini sedang tertahan di bawah pemerintahan Presiden Gustavo Petro. Sebelum insiden di Cauca ini, serangan bom lain juga sempat menargetkan pangkalan militer di Cali pada Jumat (24/4), yang menyebabkan dua orang terluka. Gelombang kekerasan mematikan ini jelas memicu ketegangan publik jelang pilpres tanggal 31 Mei mendatang.
Isu keamanan pun menjadi sorotan utama persaingan, di mana Senator sayap kiri Ivan Cepeda kini tengah memimpin jajak pendapat, disusul ketat oleh kandidat sayap kanan Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia.[dit]
