“Untuk tujuan War Powers Resolution, permusuhan yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari, telah berakhir,” tegas pejabat tersebut sebagaimana dikutip dari CNBC.
Argumen serupa diperkuat oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam sidang di Komite Angkatan Bersenjata DPR AS.
Hegseth menyatakan bahwa gencatan senjata secara efektif telah menghentikan status perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.
Blokade dan Ancaman Serangan Baru
Meski secara teknis berada dalam fase gencatan senjata, situasi di lapangan tetap mencekam. Presiden Trump pada Rabu (29/4/2026) menegaskan akan tetap mempertahankan blokade ekonomi hingga Teheran menyepakati perjanjian nuklir baru.
Di sisi lain, Iran bersikeras tidak akan membuka Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—selama pelabuhan mereka masih diblokade AS.
Laporan militer menyebutkan Komando Pusat AS telah menyiapkan rencana serangan “singkat namun kuat” untuk memecah kebuntuan negosiasi.
Ancaman ini direspons keras oleh pihak Teheran.
Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran dilaporkan mengancam akan melancarkan serangan “panjang dan menyakitkan” terhadap posisi militer AS jika Washington memutuskan untuk kembali melakukan agresi fisik.
Kombinasi antara ancaman penutupan jalur pasokan di Selat Hormuz dan ketidakpastian mandat militer Trump di Kongres diprediksi akan terus menjaga harga minyak pada level tinggi dalam beberapa pekan ke depan.
