Mereka kini diposisikan sebagai garda terdepan dalam mendeteksi gejala stunting melalui pengawasan pola asuh dan asupan gizi peserta didik.
Menurutnya, intervensi yang dilakukan pada usia emas sangat krusial karena berdampak langsung pada ketahanan sumber daya manusia (SDM) Banjarmasin di masa depan.
“Anak yang tumbuh dengan kesehatan fisik dan mental yang prima akan jauh lebih siap dalam menyerap pembelajaran. Jika kita berhasil memutus rantai stunting di level PAUD, maka kita sedang membuka jalan lebar menuju pendidikan yang jauh lebih bermutu,” ujar Neli dengan optimis.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menyukseskan program wajib belajar satu tahun pra-sekolah di Banjarmasin. Pemerintah mendorong adanya kolaborasi yang lebih erat antara guru, orang tua, dan pemangku kepentingan agar setiap intervensi gizi tepat sasaran.
Neli berharap para pendidik terus berinovasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak sekaligus suportif terhadap kesehatan fisik.
Dengan sinergi yang kuat, Banjarmasin menargetkan lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga bebas dari ancaman stunting.[dit]
